nusatimes.id – Festival Karawo 2026 dipastikan hadir dengan gebrakan baru. Tak sekadar menjadi ajang promosi kain sulam khas Gorontalo, event tahunan ini juga membidik Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui aksi Moka Karawo Kolosal yang akan melibatkan lebih dari 1.000 perajin karawo.
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, mengatakan Festival Karawo akan digelar pada 11–13 September 2026 di Gorontalo Point Convention Center (GPCC) dengan konsep yang lebih atraktif dibanding tahun sebelumnya.
“Konsep utamanya masih seperti tahun lalu, tetapi kali ini kami menghadirkan sejumlah side event yang lebih besar. Salah satunya Moka Karawo Kolosal yang kami targetkan menjadi Rekor MURI,” ujar Sultan, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, lebih dari seribu perajin akan mendemonstrasikan proses menyulam karawo secara bersamaan di kawasan GPCC. Seluruh kegiatan akan didokumentasikan langsung oleh tim MURI.
“Sejauh yang kami telusuri, belum pernah ada kegiatan serupa yang melibatkan lebih dari seribu perajin. Mudah-mudahan ini menjadi sejarah baru bagi Gorontalo,” katanya optimistis.
Usung Tema Musik Tradisional
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, Festival Karawo 2026 mengangkat tema “Ritme Hulondalo: Harmoni Warisan Gorontalo”. Tema tersebut dipilih sebagai upaya mengangkat kekayaan seni musik tradisional Gorontalo yang selama ini dinilai belum banyak mendapat ruang dalam perhelatan karnaval.
“Kami ingin memperkenalkan alat musik tradisional Gorontalo melalui balutan kain karawo. Jadi bukan hanya keindahan sulamannya yang ditampilkan, tetapi juga identitas budaya daerah melalui seni musik,” jelas Sultan.
Motif-motif karawo nantinya akan dipadukan dengan ornamen alat musik tradisional seperti polopalo, gambusi, dan berbagai unsur seni lainnya. Seluruh desain akan dirancang sehingga menghadirkan perpaduan visual yang unik dan penuh makna.
Karnaval Lebih Atraktif, Diiringi Musik Tradisional
Nuansa musik tidak hanya hadir pada desain kostum. Selama parade berlangsung, para peserta akan bergerak mengikuti irama musik tradisional Gorontalo yang dimainkan secara langsung dalam sebuah Pagelaran Musik Tradisional Kolosal. Konsep tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman berbeda bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang menyaksikan Festival Karawo.
“Setiap kostum akan menggambarkan harmoni budaya Gorontalo, sementara peserta karnaval akan diiringi musik tradisional sehingga suasana festival menjadi lebih hidup dan khas,” ungkapnya.
Minimal 70 Persen Gunakan Karawo
Untuk menjaga identitas festival, panitia juga menetapkan aturan khusus bagi seluruh peserta karnaval. Setiap kostum diwajibkan menggunakan minimal 70 persen bahan kain karawo, sehingga keunggulan produk kerajinan khas Gorontalo benar-benar menjadi pusat perhatian.
“Selama ini kadang unsur karawonya kurang terlihat. Tahun ini kami tegaskan minimal 70 persen kostum harus menggunakan bahan karawo agar identitas festival semakin kuat,” tegas Sultan.
Dorong Wisata dan Ekonomi Kreatif
Melalui berbagai inovasi tersebut, Pemerintah Provinsi Gorontalo berharap Festival Karawo 2026 tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga menjadi magnet wisata yang mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung dari berbagai daerah.
Dengan target Rekor MURI, karnaval bertema musik tradisional, hingga keterlibatan ribuan perajin, Festival Karawo 2026 diproyeksikan menjadi salah satu perhelatan budaya terbesar di Gorontalo sekaligus memperkuat posisi karawo sebagai warisan budaya yang membanggakan di tingkat nasional. (*)






