Scroll untuk baca artikel
DaerahGorontaloRamadhan

Koko’o, Tradisi Sahur Gorontalo Siap Naik Kelas Jadi Event Tahunan

×

Koko’o, Tradisi Sahur Gorontalo Siap Naik Kelas Jadi Event Tahunan

Sebarkan artikel ini

nusatimes.id – Gorontalo kembali punya “panggung” budaya yang tak kalah seru dari atmosfer pertandingan besar. Tradisi Koko’o alias ketuk sahur yang sudah hidup sejak 1962 kini didorong naik level menjadi agenda tahunan pariwisata daerah. Suasananya? Meriah, kompak, dan penuh semangat kebersamaan!

Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, menilai Koko’o punya “daya tarik juara” karena digelar sepanjang bulan Ramadhan oleh masyarakat pesisir seperti Talumolo, Siendeng, hingga Kampung Bugis.

“Koko’o ini unik. Pemuda pesisir berkreasi membangunkan sahur dengan bunyi bambu dan pentungan. Ini tradisi yang patut diapresiasi,” tegas Sultan.

Tujuh Komunitas Turun Lapangan

Musim Ramadhan tahun ini terasa makin hidup. Sekitar tujuh komunitas Koko’o dilepas di titik-titik berbeda, sementara di tingkat provinsi, pelepasan Komunitas Koko’o Lotu dilakukan langsung oleh Sekretaris Daerah. Layaknya kick-off laga penting, start kegiatan ini jadi penanda semangat kebersamaan warga.

Potensi Jadi “Magnet Penonton”

Menurut Sultan, Koko’o punya peluang besar menjadi atraksi budaya sekaligus wisata religi. Targetnya jelas: masuk kalender event resmi daerah setiap tahun menjelang Ramadhan.

“Ini sangat positif untuk mendorong budaya lokal jadi tontonan menarik bagi wisatawan,” ujarnya.

Main Kolektif, Gotong Royong Jadi Kunci

Yang bikin Koko’o makin spesial, semua berjalan lewat swadaya masyarakat. Dari anak-anak sampai orang tua turun langsung, berkeliling kampung sejak tengah malam hingga menjelang Subuh. Pemerintah hadir sebagai “official match steward” memberi dukungan dan memastikan kegiatan aman tanpa benturan.

Sultan pun berharap tradisi ini terus berkembang dan selalu dinanti setiap Ramadhan. Koko’o bukan sekadar penanda sahur tapi simbol solidnya identitas dan harmoni masyarakat Gorontalo. Kalau konsistensi terjaga, bukan tidak mungkin Koko’o bakal jadi “derby budaya” tahunan yang ditunggu-tunggu wisatawan. (*)

Apa Komentar Anda?