Scroll untuk baca artikel
DaerahGorontalo

Aroma Ketupat, Hangatnya Kebersamaan: Gebyar Ketupat Gorontalo 2026

×

Aroma Ketupat, Hangatnya Kebersamaan: Gebyar Ketupat Gorontalo 2026

Sebarkan artikel ini

nusatimes.id – Suasana hangat penuh kebersamaan akan kembali menyelimuti Gorontalo. Tradisi tahunan yang selalu dinantikan masyarakat, Gebyar Ketupat, dijadwalkan berlangsung pada 25–27 Maret 2026, bertepatan dengan perayaan Lebaran Ketupat atau H+7 Idulfitri. Lebih dari sekadar agenda seremonial, perayaan ini menjadi ruang perjumpaan nilai budaya, religiusitas, dan kebersamaan yang terus hidup lintas generasi.

Ketupat hadir sebagai pusat perayaan, bukan hanya sebagai hidangan khas, tetapi juga simbol sarat makna. Anyaman daun kelapa yang membungkus nasi dimaknai sebagai lambang kesucian, kebersamaan, dan rasa syukur setelah menunaikan ibadah Ramadan. Momentum Lebaran Ketupat pun dimanfaatkan masyarakat untuk saling berkunjung, menjamu keluarga, tetangga, hingga tamu dari berbagai daerah, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan akrab.

Pesona Gebyar Ketupat semakin kuat dengan ragam kegiatan budaya yang selalu meriah. Salah satu yang paling ditunggu adalah perlombaan karapan sapi yang setiap tahun menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar daerah. Selain itu, bazar UMKM lokal turut meramaikan perayaan, menjadi ruang promosi bagi produk-produk unggulan masyarakat, mulai dari kuliner tradisional hingga kerajinan khas Gorontalo. Kehadiran pengunjung dari berbagai daerah menjadikan Gebyar Ketupat sebagai magnet wisata budaya yang terus berkembang.

Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, mengatakan bahwa di balik kemeriahan Gebyar Ketupat Gorontalo 2026 tersimpan nilai-nilai yang sangat hakiki.

“Gebyar Ketupat merefleksikan semangat gotong royong, religiusitas, serta komitmen masyarakat dalam menjaga tradisi di tengah arus modernisasi. Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya lokal tidak hanya dikenang, tetapi terus dirawat dan dirayakan bersama,” ujarnya, Kamis (26/02/2026).

Pada akhirnya, Gebyar Ketupat bukan semata perayaan tahunan. Ia adalah cerminan identitas, cerita tentang kebersamaan yang dirawat, serta wujud kesungguhan masyarakat Gorontalo dalam menjaga akar budaya agar tetap kokoh di tengah perubahan zaman. (*)

 

Apa Komentar Anda?