Scroll untuk baca artikel
DaerahEkonomiGorontalo

Ekonomi Gorontalo Tumbuh 6,20%, Disparekrafpora Dorong penyelenggaraan Event Jadi motor Penggerak ekonomi Gorontalo

×

Ekonomi Gorontalo Tumbuh 6,20%, Disparekrafpora Dorong penyelenggaraan Event Jadi motor Penggerak ekonomi Gorontalo

Sebarkan artikel ini

nusatimes.id (Gorontalo) – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo sebesar 6,20 persen pada Triwulan II 2026 menjadi momentum untuk memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai penggerak aktivitas usaha, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,20 persen secara tahunan (year-on-year) pada Triwulan II 2026. Namun, pertumbuhan tersebut perlu diikuti peningkatan aktivitas di berbagai sektor, termasuk perhotelan, kuliner, transportasi, dan usaha ekonomi kreatif. Data BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut turut ditopang sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 59,96 persen, serta ekspor barang dan jasa yang meningkat 25,32 persen.

Di sektor perhotelan, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang berdasarkan data yang dikutip dari BPS turun dari 54,86 persen pada Juli menjadi 46,36 persen pada Agustus 2026.

Penurunan bulanan ini menjadi bahan evaluasi, terutama setelah pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII yang mendatangkan peserta dari berbagai daerah dan meningkatkan kebutuhan akomodasi di Gorontalo.

Selama pelaksanaan PENAS, sebanyak 1.574 kamar hotel berbintang dan nonbintang dilaporkan terisi penuh. Kebutuhan akomodasi bahkan mendorong masyarakat menyediakan rumah sewa dan kos-kosan sebagai penginapan sementara. Pendapatan sektor akomodasi dilaporkan mencapai sekitar Rp10,2 miliar, terdiri atas Rp9,75 miliar dari hotel serta Rp450 juta dari rumah sewa dan kos-kosan.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa event berskala nasional mampu membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha dan masyarakat. Tantangan selanjutnya adalah menjaga agar aktivitas ekonomi tidak berhenti ketika acara berakhir.

Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo, Dr. H. Sultan Kalupe, ST., MT., menegaskan bahwa penyelenggaraan event perlu diarahkan menjadi strategi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

“Penurunan tingkat hunian hotel harus menjadi bahan evaluasi bersama. Tantangan kita bukan hanya mendatangkan pengunjung, tetapi bagaimana mereka tinggal lebih lama, menikmati destinasi wisata, berbelanja di daerah, serta menggunakan produk dan jasa pelaku usaha lokal.

Dengan begitu, manfaat kegiatan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujar Sultan.

Salah satu contoh penggerak ekonomi kreatif adalah Hulonthalo Art and Craft Festival (HARFEST) yang terintegrasi dengan Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026. Berdasarkan laporan Bank Indonesia, kegiatan tersebut menarik sekitar 13.200 pengunjung, melibatkan 450 UMKM, dan mencatat penjualan sekitar Rp5,6 miliar, meningkat 70,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kegiatan ini juga membuka peluang pasar melalui business matching bagi pelaku usaha lokal.

Upaya berikutnya diarahkan pada pengembangan sport tourism melalui Gorontalo Half Marathon (GoHM) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 6 Desember 2026. Ajang yang diselenggarakan oleh Disparekrafpora Provinsi Gorontalo ini diharapkan mendatangkan peserta dan pengunjung yang turut menggerakkan perhotelan, kuliner, transportasi, serta UMKM.

sultan menjelaskan dari sisi potensi ekonomi, simulasi sederhana dapat menggambarkan besarnya peluang tersebut. Jika 5.000 peserta masing-masing membelanjakan rata-rata Rp2 juta selama berada di Gorontalo, maka potensi perputaran belanja bruto mencapai Rp10 miliar. Pengeluaran tersebut dapat mencakup akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, belanja produk lokal, serta kunjungan ke destinasi wisata.

Nilai Rp10 miliar ini merupakan ilustrasi berdasarkan asumsi belanja, bukan angka pendapatan aktual atau hasil survei. Besaran realisasinya perlu diukur melalui data peserta, lama tinggal, survei pengeluaran, dan transaksi pelaku usaha setelah kegiatan berlangsung.

Menurut Sultan, potensi tersebut perlu dimanfaatkan melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku perhotelan, UMKM, komunitas olahraga, sponsor, dan pengelola destinasi wisata. Ia berharap GoHM tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga sarana memperkenalkan kekayaan wisata dan produk ekonomi kreatif Gorontalo kepada peserta dari luar daerah.

“Kita ingin setiap event memberikan dampak yang terukur. Indikatornya bukan hanya jumlah peserta atau kemeriahan acara, tetapi juga tambahan malam kamar hotel, belanja wisatawan, omzet UMKM, keterlibatan tenaga kerja lokal, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, kolaborasi dan evaluasi berbasis data harus terus diperkuat,” jelasnya.

Sultan menambahkan, pertumbuhan ekonomi sebesar 6,20 persen patut diapresiasi, tetapi tetap perlu diikuti upaya memperluas manfaat pembangunan. Penurunan TPK dalam satu bulan harus menjadi bahan perbaikan, bukan satu-satunya indikator untuk menilai keseluruhan kinerja pariwisata dan ekonomi kreatif.

Melalui kalender event yang berkelanjutan, penguatan promosi destinasi, serta integrasi kegiatan dengan hotel, kuliner, dan produk lokal, Disparekrafpora Provinsi Gorontalo berharap event mampu mendorong pergerakan ekonomi yang lebih merata dan berkesinambungan.

“Keberhasilan event bukan hanya diukur dari ramainya pengunjung, melainkan dari seberapa besar belanja yang masuk ke daerah, usaha masyarakat yang bergerak, dan manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat Gorontalo” tutupnya. (*)

Apa Komentar Anda?