NUSATIMES.ID | JAKARTA – Hilal tidak terlihat di seluruh wilayah Indonesia pada 29 Ramadan 1447 Hijriah. Fenomena ini menjadi perhatian publik setelah hasil rukyat menunjukkan nihil pengamatan hilal di 117 titik.
Penjelasan ilmiah disampaikan oleh BMKG dan BRIN terkait penyebab gagalnya rukyat hilal tersebut.
Posisi Hilal Belum Penuhi Kriteria MABIMS
Berdasarkan data astronomi, posisi hilal di Indonesia saat pengamatan masih berada di bawah standar visibilitas MABIMS.
Tinggi hilal tercatat antara 0,91 derajat hingga 3,13 derajat, sementara sudut elongasi berkisar 4,54 derajat hingga 6,1 derajat. Angka ini belum memenuhi syarat minimal, yakni tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Kondisi tersebut menyebabkan hilal sangat sulit diamati, baik dengan mata telanjang maupun alat bantu optik.
BMKG: Faktor Cuaca Hambat Pengamatan Hilal
Selain faktor posisi, kondisi cuaca turut memengaruhi hasil rukyat. BMKG mencatat sejumlah wilayah mengalami langit berawan hingga mendung saat proses pengamatan berlangsung.
Faktor atmosfer seperti awan, kelembapan, dan polusi udara dinilai mengurangi tingkat visibilitas hilal yang pada dasarnya sudah sangat tipis.
“Transparansi atmosfer sangat menentukan. Jika langit tidak cerah, hilal akan semakin sulit terlihat,” ungkap keterangan BMKG.
BRIN: Hilal Fase Awal Sangat Tipis dan Redup
Sementara itu, peneliti dari BRIN menjelaskan bahwa hilal pada fase awal memiliki karakteristik sangat tipis dan redup.
Cahaya hilal yang lemah membuatnya mudah tertutup oleh gangguan atmosfer, bahkan dalam kondisi langit yang relatif cerah.
“Hilal pada fase awal sangat sulit diamati. Dibutuhkan kondisi ideal agar bisa terlihat,” jelas peneliti BRIN.
Kombinasi Faktor Astronomi dan Atmosfer
Para ahli menegaskan bahwa kegagalan rukyat hilal merupakan hasil dari kombinasi dua faktor utama, yakni posisi astronomi dan kondisi atmosfer.
Ketika posisi hilal belum memenuhi kriteria dan cuaca tidak mendukung, maka kemungkinan terlihatnya hilal menjadi sangat kecil.
Hal ini juga sejalan dengan hasil sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.







