nusatimes.id – Berhasil disanjung, gagal di gunjing. Fenomena itu yang kerap terjadi jika selesai mengikuti sebuah kegiatan seperti halnya multi event olahraga pelajar atau dikenal dengan Popnas. Dari sanjungan selangit usai berhasil meraih prestasi terlebih medali emas dan gunjingan jika kembali pulang tanpa prestasi sedikitpun.
Tapi apakah hanya yang belum berhasil atau gagal meraih prestasi yang di evaluasi? bagaimana dengan yang sukses meraih prestasi?.
Dua hal ini yang kerap disalah tafsirkan. Harusnya, keikutsertaan dalam sebuah event atau kegiatan sejatinya bukan menjadi ajang evaluasi pembinaan yang selama ini dilakukan. Tapi lebih pada ajang pembuktian kualitas pembinaan yang telah dilakukan bertahun-tahun.
Sehingga butuh ketegasan atas sebuah target jangka panjang pembinaan prestasi olahraga suatu daerah jika ingin selangkah lebih maju kedepannya.
“Kalau bicara soal kejurnas atau ikut event open Tournament misalnya mungkin bisa dibilang sebagai ajang evaluasi pembinaan, tapi ini sekelas PON atau POPNAS, saya rasa sudah masuk pada ranah pembuktian akan kualitas seorang pelatih. Kenapa begitu, karena dalam perjalanan menuju POPNAS atau PON tentu atlet tidak dilatih tiba saat tiba akal, ada proses yang namanya latihan dengan segudang materi didalamnya, dan keikutsertaan di event seperti PON atau POPNAS adalah puncak pembuktiannya,” beber salah seorang warga pecinta olahraga saat bincang dengan awak media ini dan enggan disebutkan namanya tersebut, Sabtu (8/11/2025).
Olehnya baik itu pengurus cabang olahraga dan juga Dinas terkait yang mengurus olahraga harus tegas dalam hal ini.
“Perlu ketegasan menurut saya, kalau tidak berhasil dicoret, dan cari yang lebih potensial. Karena kalau menunggu waktu dengan alasan, ini penampilan pertama di nasional, insyaallah berikut sudah pas waktunya. Jika demikian, maka fix kita sudah sangat tertinggal dari daerah lain,” pungkasnya.
“Sebab profesional itu adalah sosok yang baik secara manajemen pembinaan dan jeli melihat potensi tanpa harus merujuk berbagai analisis kertas yang ujungnya nol saat tampil di event sebenarnya,” tambahnya.
Praktisi sekaligus akademisi olahrag Gorontalo, Prof. Hariadi Said menyampaikan tanggapan berbeda saat dihubungi awak media ini. Ia membantah jika keiukutsertaan pada ajang multi event olahraga adalah sebuah pembuktian kualiatas pembinaan seorang pelatih.
“Jadi bukan bos, kalau mau sebaiknya single event di perbanyak dan semua daerah harus ikut dan dari situ buatlah peringkat nasional, misalnya yang masuk 8 besar otomatis ikut multi event seperti PON. Dengn demikian terukur kinerja masing-masing pengda cabor,” jelasnya.
“Multi event adalah manifestasi persatuan dan wadah prestasi terukur dari berbagai daerah dan berbagai cabor. Dan yang paling tersentuh adalah aspek ekonomi dan sosial, berapa banyak biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing daerah,” tambah sosok yang juga mantan Rektor Universitas Gorontalo tersebut. (*)






