nusatimes.id – PSSI Kabupaten Gorontalo mulai menaikkan standar kualitas sepak bola daerah. Salah satu gebrakan yang disiapkan adalah mewajibkan setiap turnamen sepak bola di Kabupaten Gorontalo menggunakan pelatih yang memiliki lisensi.
Ketua PSSI Kabupaten Gorontalo, Fadly Luneto, menegaskan kebijakan tersebut menjadi langkah penting untuk membangun sepak bola yang lebih profesional.
Menurut Fadly, lisensi pelatih bukan sekadar formalitas. Keberadaan lisensi menjadi bukti bahwa seorang pelatih memiliki kompetensi sekaligus memahami regulasi sepak bola.
“Untuk sepak bola di Kabupaten Gorontalo, turnamen-turnamen yang ada minimal pelatihnya harus berlisensi. Ini penting untuk ke depan, khususnya sepak bola yang ada di Kabupaten Gorontalo,” kata Fadly kepada awak media, Sabtu (8/8/2026).
Ia menyebut sejumlah daerah seperti Pohuwato dan Boalemo sudah mulai menerapkan standar serupa. Kabupaten Gorontalo pun tak ingin tertinggal.
Fadly mengibaratkan lisensi pelatih dengan Surat Izin Mengemudi (SIM). Seseorang mungkin bisa mengendarai sepeda motor, tetapi tetap membutuhkan SIM sebagai bukti bahwa dirinya memenuhi persyaratan untuk berkendara.
“Bukan berarti menafikan yang tidak punya lisensi. Tapi bagaimana kita menghargai pelatih ini secara profesional. Sama seperti seseorang tahu naik motor, tapi mana SIM-nya? Tidak ada SIM. Demikian juga ini, harus ada lisensi yang memang diakui,” tegasnya.
Tak hanya soal profesionalisme, lisensi juga akan memudahkan PSSI dalam melakukan pengawasan terhadap turnamen. Jika terjadi pelanggaran, sanksi dapat dijatuhkan berdasarkan regulasi yang berlaku.
“Nanti kalau terjadi apa-apa di turnamen, enak kita memantau dan mengawasi. Kalau ada sanksi, kita ambil sesuai regulasi,” jelasnya.
Kebijakan tersebut rencananya mulai diterapkan pada Piala Bupati yang akan digelar di Kabupaten Gorontalo.
Namun, PSSI Kabupaten Gorontalo menyadari masih banyak pelatih yang belum mengantongi lisensi. Karena itu, pihaknya menyiapkan program pelatihan berlisensi agar semakin banyak pelatih lokal yang memiliki kompetensi resmi.
Untuk sementara, PSSI Kabupaten Gorontalo belum memberikan subsidi biaya lisensi kepada para pelatih. Meski begitu, peluang dukungan dari pemerintah desa tengah dijajaki.
“Kita akan buka pelatihan yang berlisensi. Nanti kita coba hubungi desa-desa yang bisa dibantu atau di-support dari desa, yang mungkin bisa dianggarkan, tentunya sesuai aturan,” ujar Fadly.
Program tersebut nantinya bisa dilaksanakan di tingkat provinsi maupun kabupaten. PSSI juga akan melakukan pemetaan terhadap kebutuhan pelatih dan perangkat pertandingan di berbagai wilayah.
Targetnya jelas: pelatih berlisensi tidak hanya terkonsentrasi di perkotaan. Mereka diharapkan bisa kembali ke kampung masing-masing untuk membina pemain-pemain muda.
“Kita akan petakan mana-mana yang belum punya. Sehingga mereka nanti bisa melatih di kampung-kampung. Itu tujuannya,” pungkas Fadly.
Dengan langkah tersebut, PSSI Kabupaten Gorontalo ingin menjadikan turnamen lokal bukan sekadar ajang perebutan trofi, tetapi juga ruang pembinaan sepak bola yang lebih tertib, profesional, dan berjenjang. (*)






