nusatimes.id — Dua hari pertarungan taekwondo antarpelajar di GOR David Tony, 26-27 September 2026, akhirnya tuntas. Persaingan berlangsung ketat, sekaligus menjadi panggung untuk melihat munculnya talenta-talenta muda Taekwondo Gorontalo.
Kejuaraan Taekwondo Antar Pelajar jenjang SD, SMP, hingga SMA itu menyuguhkan pertarungan sengit sejak hari pertama. Jika laga awal lebih banyak diwarnai persaingan atlet pelajar SD dan SMP, tensi pertandingan semakin meningkat pada hari kedua saat para taekwondoin tingkat SMA turun ke arena.
Bukan hanya persaingan antar-atlet yang menarik perhatian. Perolehan medali antarsekolah dan dojang juga berlangsung ketat. Pada kategori Juara Festival, MTs Negeri 1 Kota Gorontalo keluar sebagai yang teratas. Mereka mengoleksi 29 medali emas dan 31 perak, dengan total 60 medali.
Posisi kedua ditempati MTsN 1 Pohuwato dengan 16 emas dan 24 perak, atau total 40 medali. Sementara Wirabakti berada di posisi ketiga dengan 15 emas dan 20 perak, total 35 medali. Persaingan berbeda terlihat pada kategori Juara Prestasi. SMA Negeri 3 Kota Gorontalo menjadi pemuncak dengan raihan 6 emas, 1 perak, dan 1 perunggu, total 8 medali.
MTs Negeri 1 Kota Gorontalo berada di posisi kedua dengan 2 emas, 3 perak, dan 7 perunggu atau total 12 medali. Sedangkan MAN 1 Kota Gorontalo menempati posisi ketiga dengan 2 emas dan 2 perak, total 4 medali.
Sementara itu, pada klasemen Dojang, persaingan juga tak kalah sengit. GTC memimpin dengan 70 emas dan 44 perak, total 114 medali. ZUBO berada di posisi kedua dengan 67 emas, 93 perak dan 11 perunggu atau total 171 medali. Sedangkan ETC mengoleksi 62 emas, 58 perak dan 6 perunggu, dengan total 126 medali.
Data tersebut menunjukkan betapa ketatnya persaingan. ZUBO bahkan menjadi dojang dengan total perolehan medali terbanyak, namun klasemen tetap ditentukan berdasarkan raihan emas sehingga GTC berada di posisi teratas.
Kabid Binpres Pengprov TI Gorontalo, Januar B. Lahay, mengaku puas dengan pelaksanaan kejuaraan tersebut. Menurutnya, ajang seperti ini menjadi kesempatan penting untuk memantau perkembangan atlet-atlet muda.
“Di sini kita melihat potensi-potensi muda yang diharapkan dapat berbicara di pentas nasional bahkan internasional,” ujar Januar, yang juga merupakan pelatih Timnas Taekwondo Indonesia.
Bagi Januar, hasil pertandingan bukan sekadar persoalan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kejuaraan menjadi bagian dari proses pembinaan dan pemetaan atlet potensial yang bisa dipersiapkan menghadapi level kompetisi lebih tinggi.
Hal senada disampaikan Sekretaris Pengprov TI Gorontalo, Mohamad Nasaru. Menurutnya, semakin banyak kompetisi yang digelar, semakin besar pula ruang bagi atlet untuk mengukur kemampuan sekaligus mendapatkan pengalaman bertanding. Ia berharap event-event seperti ini mampu membuat para taekwondoin muda semakin termotivasi untuk berlatih.
Dengan berakhirnya kejuaraan di GOR David Tony, pekerjaan berikutnya tinggal menjaga momentum. Para juara sudah menemukan panggungnya, sementara bibit-bibit lainnya mendapat pengalaman berharga dari kerasnya pertarungan. Dari GOR David Tony, taekwondo Gorontalo kembali menunjukkan bahwa stok talenta mudanya terus tumbuh. (*)






