PSAWI Gorontalo Belum Tancap Gas, 3 Atlet Dibidik ke Kejurnas!
nusatimes.id – Pra-PON kian mendekat, tetapi persiapan ski air Gorontalo masih menunggu kepastian. Di tengah harapan mengembalikan kejayaan olahraga air di Bumi Serambi Madinah, Pengprov Persatuan Ski Air dan Wakeboard Indonesia (PSAWI) Gorontalo kini dihadapkan pada sejumlah pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Belum terlihatnya gebrakan besar dalam persiapan Pra-PON memunculkan tanda tanya di kalangan pelaku olahraga ski air. Setelah Hamzah Idrus terpilih sebagai ketua dan rapat kerja digelar beberapa bulan lalu, realisasi program kerja dinilai belum menunjukkan perkembangan signifikan.
Namun, di tengah sorotan tersebut, PSAWI Gorontalo ternyata memiliki agenda terdekat. Tiga atlet dipersiapkan untuk tampil pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Ski Air yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta, Desember 2026.
Sekretaris PSAWI Provinsi Gorontalo, Sance Abdullah, mengatakan keikutsertaan dalam Kejurnas menjadi salah satu fokus yang sedang dipersiapkan. Untuk urusan teknis, tim atlet nantinya akan ditangani pelatih ski air asal Gorontalo yang berada di Jakarta.
“Kalau ski air sekarang lagi dalam menghadapi persiapan Kejurnas di bulan Desember 2026 yang akan diadakan di Jakarta. Rencananya akan diikuti oleh tiga orang atlet Gorontalo,” ungkap Sance.
Langkah ini tentu menjadi kesempatan bagi atlet Gorontalo untuk menguji kemampuan sekaligus menjaga ritme kompetisi. Namun, Kejurnas saja belum cukup. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menyiapkan kekuatan yang kompetitif ketika agenda Pra-PON mulai bergulir.
Masih Menunggu Kepastian PB PSAWI
Terkait Pra-PON, Sance mengungkapkan bahwa pihaknya masih menunggu keputusan Pengurus Besar (PB) PSAWI mengenai lokasi pelaksanaan. Hingga kini, belum ada kepastian apakah ajang kualifikasi menuju PON tersebut akan digelar di Gorontalo atau Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Belum ada jawaban dari PB, jadi kita masih menunggu. Hanya saja akan terbentur di dana kalau Pra-PON dilaksanakan di sini,” ujarnya.
Ketidakpastian lokasi tersebut membuat pengurus belum bisa mematangkan sejumlah aspek persiapan. Padahal, kepastian venue sangat penting untuk menyusun kebutuhan anggaran, agenda latihan, akomodasi, hingga strategi keberangkatan atlet.
Jika Pra-PON berlangsung di Gorontalo, persoalan pendanaan menjadi tantangan tersendiri. Sebaliknya, jika digelar di luar daerah, pengurus juga harus menghitung kebutuhan biaya perjalanan dan operasional kontingen.
“Kalau mengenai Pra-PON juga belum ada ketentuan atau jawaban pasti dari PB,” lanjutnya.
Situasi inilah yang membuat langkah PSAWI Gorontalo terkesan belum bisa berlari kencang. Meski demikian, kepastian dari PB PSAWI bukan satu-satunya pekerjaan yang perlu dituntaskan. Pengurus daerah tetap dituntut menyiapkan skenario agar program pembinaan tidak ikut terhenti hanya karena lokasi pertandingan belum diumumkan.
Dua Pelatih Ikut Pelatihan di Jakarta
Di tengah pekerjaan rumah tersebut, ada pula upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. PSAWI Gorontalo mengirimkan dua pelatih, Burhanudin Aliyu dan Rahmat Kadir, untuk mengikuti pelatihan pelatih ski air di Jakarta.
Keikutsertaan keduanya diharapkan menjadi modal penting bagi pengembangan ski air Gorontalo. Peningkatan kompetensi pelatih dapat menjadi fondasi untuk memperbaiki kualitas latihan, mengasah kemampuan atlet, dan membangun sistem pembinaan yang lebih terarah.
Akan tetapi, peningkatan kapasitas pelatih perlu diikuti program kerja yang jelas dan berkelanjutan. Tanpa agenda latihan yang terukur serta dukungan pembiayaan, hasil pelatihan berisiko belum memberikan dampak maksimal terhadap prestasi atlet.
Nico Akuba Ikut Mempertanyakan Arah Organisasi
Sebelumnya, sesepuh sekaligus pelatih senior ski air Gorontalo, Nico Akuba, juga menyuarakan kegelisahannya melalui grup WhatsApp pelaku olahraga ski air.
“Mungkin ada yang bisa memberi penjelasan, napa kita masih tiarap terus sampe sekarang? Banyak hal yang harus kita masyawarahkan untuk mencapai kesimpulan dan menentukan arah kebijakan selanjutnya,” tulis Nico.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran adanya harapan dari kalangan pelaku olahraga agar PSAWI Gorontalo segera memperjelas arah pembinaan dan langkah menghadapi agenda nasional. Kini, pekerjaan rumah PSAWI Gorontalo bukan sekadar menunggu keputusan PB PSAWI. Persiapan Kejurnas, peningkatan kualitas pelatih, pemetaan atlet potensial, hingga perencanaan anggaran harus berjalan beriringan.
Tiga atlet akan disiapkan menuju Kejurnas Desember. Dua pelatih mengikuti peningkatan kompetensi. Namun, untuk Pra-PON, kepastian masih menjadi tanda tanya. Publik olahraga Gorontalo tentu berharap semua potensi tersebut tidak berhenti sebagai agenda di atas kertas. Sebab, jika ingin kembali mengibarkan prestasi ski air di pentas nasional, PSAWI Gorontalo harus segera menemukan momentum untuk tancap gas. Jangan sampai ketika Pra-PON sudah di depan mata, persiapan justru masih berkutat pada persoalan kepastian dan pendanaan. (*)






