Nusatimes.id – Komitmen nyata dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak kembali ditunjukkan oleh organisasi Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Bone Bolango.
Bukan tanpa sebab, Ketua DWP Bone Bolango dr. Nurliana Ibrahim dalam sambutannya mengatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak bukanlah isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, sangat mungkin kasus-kasus kekerasan terjadi di sekitar tanpa disadari, karena para korban memilih diam akibat rasa takut, malu, atau ketidaktahuan tentang cara mencari bantuan.
Oleh karena itu, DWP Bone Bolango melaksanakan kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak yang diintegrasikan dengan Pemeriksaan Kesehatan di Aula BPMP Provinsi Gorontalo, Selasa (5/8/2025).
Lebih lanjut, dr Nurliana menegaskan, sebagai organisasi perempuan tentu DWP memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk mencegah terjadinya kekerasan.
“Dharma Wanita tidak boleh tinggal diam. Sebagai organisasi perempuan, kita punya tanggung jawab moral besar untuk mencegah terjadinya kekerasan, khususnya di lingkungan kita sendiri, sebagai anggota DWP dan istri ASN,” tegas dr. Nurliana.
Adapun tujuan kegiatan tersebut untuk mengedukasi seluruh anggota DWP agar lebih peka terhadap berbagai bentuk kekerasan, mulai dari kekerasan fisik, emosional, ekonomi, hingga kekerasan seksual. Edukasi ini juga mencakup pemahaman mengenai tindakan yang dapat dilakukan jika kekerasan terjadi pada diri sendiri maupun orang di sekitar.
“Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman dan damai. Kita ingin memastikan tidak ada lagi perempuan dan anak yang hidup dalam ketakutan di rumah mereka sendiri,” jelas dr. Nurliana.
Melalui kegiatan yang terintegrasi dengan layanan kesehatan ini, dr. Nurliana mengungkapkan visi dari organisasi yang dipimpinnya tersebut merupakan organisasi perempuan yang tidak hanya berdaya, tetapi juga sadar hukum dan peduli terhadap isu-isu sosial yang mendasar.
“Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian antaranggota, serta memperluas pemahaman bahwa pencegahan kekerasan dimulai dari kesadaran, edukasi, dan keberanian untuk bertindak,” pungkasnya. (Rls)












