nusatimes.id – Kreativitas masyarakat Gorontalo dalam mengembangkan ekonomi kreatif terus menunjukkan potensi menjanjikan. Tak hanya mengandalkan Karawo sebagai warisan budaya unggulan, Gorontalo kini memiliki inovasi wastra ecoprint bermotif daun nantu yang terinspirasi dari kekayaan hayati Hutan Nantu.
Potensi tersebut menjadi salah satu sorotan dalam talkshow Gorontalo Menyapa: Pengembangan Potensi Ekonomi Kreatif Gorontalo yang disiarkan langsung TVRI Gorontalo, Selasa (13/10).
Talkshow yang berlangsung pukul 16.00 hingga 17.00 WITA itu menghadirkan Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Parekrafpora) Provinsi Gorontalo, Dr. Ir. H. Sultan Kalupe, ST., MT., Koordinator Daerah Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Gorontalo, Taufik Latama, serta Indira Lomban dari Komunitas Kreatif Natura.
Dipandu presenter Budi Muda, S.I.Kom., diskusi tersebut membahas peluang pengembangan potensi lokal menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas daerah. Salah satu yang mencuri perhatian ialah ecoprint karya Komunitas Natura. Produk fesyen ini memanfaatkan bentuk dan warna alami tumbuhan untuk menghasilkan motif unik pada kain.
Menariknya, daun nantu yang menjadi inspirasi utama menghadirkan karakter tersendiri pada produk tersebut. Tak sekadar menghasilkan karya artistik, inovasi ini juga membawa pesan tentang kekayaan alam Gorontalo dan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Ecoprint daun nantu pun membuka peluang baru bagi pengembangan wastra Gorontalo. Jika Karawo dikenal melalui teknik sulaman yang membutuhkan ketelitian dan keterampilan tinggi, ecoprint menawarkan pendekatan berbeda dengan mengeksplorasi keindahan bentuk serta warna alami tumbuhan.
Keduanya berpeluang saling melengkapi melalui pengembangan desain busana kontemporer, aksesori, hingga produk kriya yang dapat menjangkau pasar lebih luas. Kolaborasi antara perajin Karawo, komunitas kreatif, desainer, pelaku usaha fesyen, dan pemerintah daerah menjadi salah satu peluang untuk memperkuat daya saing produk lokal.
Pengembangan desain, peningkatan kualitas, penguatan merek, serta pemanfaatan pemasaran digital dinilai penting agar wastra Gorontalo mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional. Dalam talkshow tersebut, Sultan Kalupe mengangkat arah pengembangan ekonomi kreatif daerah melalui kebijakan dan program yang mendorong kreativitas masyarakat menjadi kekuatan ekonomi.
Pengembangan sektor ini membutuhkan dukungan menyeluruh, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pendampingan pelaku kreatif, inovasi produk, fasilitasi kekayaan intelektual, hingga perluasan akses pasar dan kemitraan usaha. Ecoprint daun nantu menjadi salah satu contoh bagaimana kreativitas komunitas dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif Gorontalo.
Sementara itu, Taufik Latama membawa perspektif pengembangan kota kreatif dengan menempatkan komunitas, kolaborasi, dan potensi lokal sebagai elemen penting dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan. Dari sisi pelaku kreatif, Indira Lomban memperlihatkan bahwa kekayaan alam dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan produk bernilai tambah sekaligus sarana edukasi lingkungan.
Melalui ecoprint, masyarakat dapat mengenal kekayaan Hutan Nantu dalam bentuk karya yang memiliki nilai estetika dan berpotensi dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif. Talkshow Gorontalo Menyapa tersebut menegaskan bahwa masa depan ekonomi kreatif daerah tidak hanya bertumpu pada warisan budaya, tetapi juga pada kemampuan masyarakat berinovasi dan membaca peluang.
Karawo, ecoprint daun nantu, kuliner tradisional, seni pertunjukan, dan berbagai produk kreatif lainnya merupakan aset yang dapat dikembangkan melalui sinergi pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. Dengan pengembangan yang terarah, Gorontalo berpeluang memperkuat identitasnya sebagai daerah yang tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga mampu melahirkan inovasi kreatif yang berdaya saing.
Lebih dari sekadar produk fesyen, ecoprint daun nantu membawa pesan bahwa pelestarian lingkungan dan pengembangan ekonomi dapat berjalan beriringan. Kekayaan alam yang dikelola secara bertanggung jawab dapat menjadi sumber inspirasi bagi produk bernilai ekonomi sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan bagi generasi mendatang. (*)






