nusatimes.id – Dunia tinju Gorontalo kembali bergolak. Mantan atlet sekaligus Sekretaris Pengprov Pertina Gorontalo, Edy Duhe, M.Pd, melontarkan kritik keras terhadap kepengurusan Pengprov Pertina Gorontalo yang saat ini dipimpin Brigjen TNI (Purn) Sofyan Yahya Botutihe, M.BA.
Edy menilai roda organisasi Pertina Gorontalo berjalan tidak sesuai aturan. Ia menyoroti seringnya pergantian pengurus yang dilakukan tanpa mekanisme organisasi yang sah, bahkan disebut tidak memenuhi unsur quorum dalam musyawarah mufakat.
“Pergantian pengurus terkesan diputuskan sendiri, tidak melalui forum resmi organisasi,” tegas Edy, Sabtu (20/12/2025).
Tak hanya itu, selama hampir dua periode kepengurusan, Edy menyebut tidak pernah ada kejuaraan atau event tinju yang digelar di Gorontalo. Kondisi ini makin diperparah dengan domisili ketua yang berada di luar daerah, sehingga komunikasi dan koordinasi dinilai tidak berjalan efektif.
“Bagaimana mau melihat proses pembinaan kalau ketuanya tinggal di Jakarta, bukan di Gorontalo,” sentilnya.
Menurut Edy, mimpi atlet tinju Gorontalo untuk berprestasi di level nasional hingga internasional sebenarnya sangat mungkin, namun syarat utamanya adalah pembenahan organisasi dan program pembinaan.
Ia lalu membeberkan sejumlah catatan krusial yang menurutnya harus segera dievaluasi:
Sarana dan prasarana latihan tidak memadai, tetapi target prestasi tinggi. Ironisnya, atlet yang kalah justru mendapat caci maki.
Tidak ada arah pembinaan jelas dari usia dini hingga senior, serta minim dukungan program.
Rutin hadir Mukernas, namun tidak pernah menggelar Mukerda, sehingga program daerah tidak jelas.
Pergantian pengurus semaunya, tanpa mekanisme organisasi yang sah.
Sejak 2019 hingga sekarang, tidak pernah ada kejuaraan tinju di berbagai level.
Hanya satu Pengda yang aktif, dan belum lahir Pengda atau Pengcab Pertina di kabupaten/kota.
Ketua Pengprov memiliki jabatan strategis di PP Pertina bidang organisasi, namun organisasi di daerah justru amburadul.
Dengan nada tegas, Edy meminta pembenahan menyeluruh sebelum bicara target prestasi.
“Coba kasi bagus dulu urus tinju di Gorontalo,” tandasnya.
Ia juga mempertanyakan alasan pergantian pengurus yang menurutnya tidak pernah dijelaskan secara transparan.
“Tidak ada alasan yang jelas mengeluarkan pengurus sejak periode pertama sampai sekarang,” tutup Edy.
Sorotan ini menjadi peringatan keras bagi Pertina Gorontalo. Tanpa organisasi yang sehat dan program yang jelas, prestasi hanya akan jadi mimpi kosong. (*)






