Scroll untuk baca artikel
Olahraga

Gizi Jadi Kunci! Atlet Digenjot Makan Halal, Bergizi, dan Terukur

×

Gizi Jadi Kunci! Atlet Digenjot Makan Halal, Bergizi, dan Terukur

Sebarkan artikel ini
oplus_256

nusatimes.id – Performa atlet tak cuma ditentukan latihan keras. Urusan dapur ternyata jadi penentu utama. Dalam pemaparan terbaru soal gizi olahraga, Dr. Arifasno Napu, menegaskan bahwa dua syarat utama makanan atlet adalah halal dan baik—alami, beragam, bergizi, berimbang, aman, dan menyehatkan.

Alarm Kesehatan: Hepatitis hingga Asam Lambung

Kasus atlet yang mengarah ke gejala hepatitis jadi peringatan keras. Ada juga yang terindikasi gastritis akibat pola makan ekstrem—hanya makan sekali sehari demi turun berat badan.
Metode instan seperti:
Jogging pakai jas hujan
Mengurangi minum berlebihan
Konsumsi diuretik
Puasa ekstrem
Semua dinilai berbahaya. Berat badan mungkin turun, tapi power hancur.

Fakta Lapangan: Asupan Belum Ideal

Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata pemenuhan gizi atlet baru sekitar 62% dari kebutuhan ideal.
Temuan lain:
Karbohidrat masih di bawah target (rata-rata 200–400 gram, idealnya bisa 600 gram lebih pada fase tertentu).
Serat kurang, dampaknya banyak atlet susah BAB.
Zat besi dan beberapa mineral masih rendah.
Lemak tubuh minim, energi cepat habis.
Tak heran, ada atlet mengeluh pusing, lemas, bahkan demam usai latihan.

Strategi Nutrisi: Bukan Asal Kenyang

Pengaturan makan harus presisi:
3 jam sebelum tanding: makan utama.
1 jam sebelum tanding: hindari makanan berat, risiko muntah tinggi.
30 menit setelah latihan: isi ulang energi dan protein.

Minuman karbohidrat 3–5% (±1 sendok gula/200 ml air) untuk ganti elektrolit.
Fase latihan berat juga perlu strategi carbo-loading 3–4 hari agar cadangan energi penuh saat hari H.

Menu Lokal Bisa Jadi Andalan

“Tak perlu mahal. Ikan lokal, kangkung, pisang, semangka—asal diolah benar dan seimbang—cukup mendukung performa,” ujanya.

“Yang penting, konsumsi terkontrol dan tidak tergoda minuman ringan berlebihan,” tambahnya.

Tim Harus Kompak

Masalah gizi bukan cuma urusan atlet. Pelatih, tim medis, psikolog, hingga pengurus wajib satu suara. Monitoring berat badan, status kesehatan, hingga kebiasaan makan harus rutin dievaluasi.

Karena satu hal yang pasti, Prestasi besar lahir dari perut yang terjaga dan tubuh yang terawat. Latihan boleh keras, tapi gizi harus cerdas. (*)

Apa Komentar Anda?