Scroll untuk baca artikel
DaerahGorontaloNasionalNusantara

Kopi Gorontalo Naik Kelas, Karawo dan Tenun Didorong Jadi Kekuatan Ekonomi Kreatif

×

Kopi Gorontalo Naik Kelas, Karawo dan Tenun Didorong Jadi Kekuatan Ekonomi Kreatif

Sebarkan artikel ini

nusatimes.id – Borotapo tidak ingin hanya dikenal sebagai salah satu sentra komunitas kopi. Kawasan tersebut kini mulai didorong menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif dan budaya yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga pasar internasional.

Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan berbagai potensi lokal, termasuk kerajinan Karawo dan kain tenun khas Borotapo.

Salah satu inovasi yang mulai diperkenalkan adalah kain tenun Karawo. Produk tersebut menjadi bagian dari upaya memperkaya khasanah kerajinan daerah yang selama ini lebih dikenal melalui Karawo.

Keberadaan kain tenun tersebut menjadi bukti bahwa kekayaan budaya daerah tidak hanya bertumpu pada satu produk kerajinan.

“Borotapo tidak lagi hanya sebagai komunitas kopi, tetapi sedang menjadi pemain komunitas kopi di tingkat nasional bahkan internasional,” ujar Kepala BI Gorontalo, Bambang Satya Permana, Sabtu (12/9/2026) saat sambutannya pada acara pembukaan Harfest 2026 di GPCC Kota Gorontalo.

Menurutnya, inovasi menjadi kunci agar produk budaya lokal tetap bertahan sekaligus mampu mengikuti perkembangan pasar.

Pengembangan produk lokal juga diarahkan untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Produk kerajinan tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga harus mampu menjadi bagian dari penggerak ekonomi masyarakat.

Karena itu, berbagai inovasi terus dilakukan agar kain wastra dan kerajinan khas Gorontalo semakin dikenal serta memiliki pasar yang lebih luas.

Di sisi lain, keterlibatan generasi muda juga menjadi perhatian. Lebih dari 300 siswa SMP dan sederajat dilibatkan dalam kegiatan Mo Karawo Kolosal.

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengenal sekaligus mempraktikkan langsung salah satu warisan budaya Gorontalo.
Keterlibatan ratusan pelajar dinilai menunjukkan semakin kuatnya perhatian generasi muda terhadap pelestarian budaya daerah.

“Kekuatan dari kegiatan ini adalah harmoni kreativitas, menjual makanan, dan meningkatkan daya saing UMKM Gorontalo,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat, Sabtu hingga Minggu, diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat Gorontalo, terutama pelaku UMKM.

Jumlah UMKM yang terlibat juga mengalami peningkatan. Jika sebelumnya terdapat sekitar 135 UMKM di sekitar kawasan kegiatan, tahun ini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 165 UMKM.

UMKM yang terlibat tidak hanya berasal dari kawasan sekitar, tetapi juga pelaku usaha dari wilayah lainnya. Mereka mendapatkan ruang untuk memperkenalkan dan memasarkan produk sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari rangkaian kegiatan tersebut.

“Bagi kami, keberhasilan kegiatan ini bukan hanya dilihat dari pelaksanaan acaranya, tetapi bagaimana kegiatan ini bisa memberikan manfaat kepada UMKM,” katanya.

Setelah rangkaian kegiatan berakhir, agenda berikutnya akan diarahkan pada business matching antara UMKM dan buyer. Pertemuan tersebut diharapkan membuka peluang pasar baru bagi produk-produk lokal Gorontalo, sekaligus mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli potensial.

Dengan demikian, pengembangan Karawo, tenun, kuliner, kopi, dan berbagai produk ekonomi kreatif lainnya tidak berhenti pada promosi. Produk lokal diharapkan mampu naik kelas, memiliki pasar yang lebih luas, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (*)

Apa Komentar Anda?