nusatimes.id – Panggung kejuaraan taekwondo antar pelajar baru saja menutup tirai dengan deretan prestasi yang membanggakan. Hasil-hasil yang terukir bukan sekadar soal medali, melainkan bukti nyata bahwa bibit-bibit taekwondo di Tanah Gorontalo mulai tumbuh subur di berbagai penjuru. Namun, di balik sorak-sorai kemenangan, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar semua daerah bisa tampil setara di panggung tertinggi.
Di ajang Juara Festival, persaingan berlangsung panas dari awal hingga akhir. MTs Negeri 1 Kota Gorontalo tampil sebagai penguasa tak terbantahkan! Dengan mengumpulkan 30 medali emas dan 31 medali perak, mereka mencetak total 61 medali – jarak yang cukup jauh dari pengejarnya. Posisi kedua tak mau kalah sengit, diisi oleh MTsN 1 Pohuwato yang mencatatkan 16 emas dan 24 perak (40 total). Sementara itu, Wirabakti mengamankan posisi ketiga dengan raihan 15 emas dan 20 perak, total 35 medali.
“Angka-angka ini menunjukkan bahwa bibit bakat tersebar luas, tapi kualitas kedalaman masih perlu ditingkatkan di beberapa tempat,” ujar Januar B. Lahay, pelatih timnas sekaligus Kepala Bidang Pembinaan Prestasi TI Gorontalo.
Di kategori Juara Prestasi yang menuntut ketepatan teknik dan mental juara, SMA Negeri 3 Kota Gorontalo berdiri tegak di puncak klasemen. Dengan 6 emas, 1 perak, dan 1 perunggu, total 8 medali menjadi bukti dominasi yang kokoh. MTs Negeri 1 Kota Gorontalo menempati posisi kedua dengan 2 emas, 3 perak, 2 perunggu (total 12), sementara MAN 1 Kota Gorontalo berada di posisi ketiga dengan 2 emas, 2 perak, tanpa perunggu – total 4 medali.
Di ajang Dojang, persaingan memanas luar biasa! GTC sempat memegang kendali dengan 70 emas, 44 perak, tanpa perunggu – total 114 medali di posisi pertama. Namun ZUBO datang mengejutkan! 67 emas, 93 perak, 11 perunggu – total 171 medali! Angka yang luar biasa dan menjadi ancaman nyata bagi posisi teratas.
Tak kalah menarik, ETC mengunci posisi ketiga dengan raihan 62 emas, 58 perak, 6 perunggu, total 126 medali. Kekuatan mereka yang merata di setiap jenis medali membuat mereka menjadi tim yang patut diperhitungkan di masa depan.
Januar juga menyoroti makna di balik deretan angka tersebut.
“Secara keseluruhan memang pembinaan olahraga ini sudah cukup merata di Gorontalo. Hanya saja tidak bisa dipungkiri ada beberapa daerah yang harus lebih di-push lagi pembinaannya,” jelasnya.
Pernyataan ini menjadi sinyal jelas: Gorontalo sudah berada di jalur yang benar. Bakat sudah tersebar – dari Kota hingga daerah kabupaten. Namun kesenjangan antar daerah masih terlihat nyata. Ada daerah yang sudah mampu mencetak puluhan medali dengan kualitas beragam, sementara yang lain masih kesulitan mengejar jumlah maupun kualitas.
Kejuaraan ini bukan sekadar ajang pemberian penghargaan. Ini adalah peta kekuatan Gorontalo di kancah taekwondo pelajar. Tugas selanjutnya: memastikan daerah-daerah yang tertinggal mendapatkan perhatian, pelatihan berkualitas, dan kesempatan bertanding yang sama. Karena taekwondo Gorontalo tidak akan benar-benar kuat jika hanya beberapa daerah yang bersinar – semua harus menyinari. Gorontalo bangga, perjuangan belum selesai!. (*)






