nusatimes.id – Performa bukan cuma soal fisik. Mental juga menentukan hasil akhir di lapangan. Itulah benang merah Workshop Penanganan Psikologi Atlet yang dibawakan oleh Nurul Abrari, S.Psi., M.Pai – Psikologi.
Dalam sesi yang lugas dan penuh sentuhan humanis itu, Nurul menegaskan satu hal penting: kondisi psikologis pelatih dan pengelola sangat berdampak langsung pada kesiapan mental atlet.
“Kalau fisik bisa terlihat, emosi tidak,” tegasnya.
PFA: “Kompres” untuk Mental Atlet
Materi utama yang disorot adalah PFA (Psychological First Aid) atau penanganan pertama psikologis. Ibarat kompres pada cedera otot, PFA adalah pertolongan awal saat atlet mengalami krisis emosional.
Dan krisis itu tak selalu soal bencana besar.
Kekalahan. Tekanan jelang pertandingan.
Target tinggi. Bahkan pengalaman tak menyenangkan di masa lalu. Semua bisa menjadi trauma tersendiri bagi atlet.
Menariknya, banyak atlet menyimpan beban itu sendirian.
Gejalanya? Performa menurun, Gugup, keringat dingin, Gangguan tidur, Nafsu makan berubah, Terlihat “malas” Padahal, bisa jadi itu bukan malas. Itu sinyal gangguan emosional.
60 Persen di Bawah Standar
Data hasil tes dari Kemenpora yang dipaparkan dalam workshop cukup mengkhawatirkan. Sekitar 60 persen atlet Gorontalo belum memenuhi standar dalam aspek penyelesaian masalah.
Problem solving rendah = mental gampang goyah saat tekanan datang.
Tak sedikit atlet yang akhirnya mengalami burnout. Bukan hanya karena latihan keras, tapi karena faktor psikologis yang tak tertangani.
Bahkan ada yang merasa tak lagi punya target. Ini alarm keras. Pelatih Jangan Cuma Jadi “Pemberi Tekanan”. Salah satu temuan menarik, 95 persen atlet mengaku tidak nyaman dengan metode marah-marah sebagai motivasi. Budaya “keras biar kuat” ternyata tidak berlaku untuk semua.
Kalimat yang salah bisa memangkas performa dari 100 persen menjadi 70 persen.
Fisik siap, mental belum tentu.
Nurul mengingatkan, sebelum memberi motivasi, dengarkan dulu. Jangan menghakimi. Jangan melabeli. Karena belum ada atlet yang benar-benar terbuka secara utuh soal kondisi psikologisnya kepada pelatih.
Teknik Simpel, Dampak Besar
Workshop ini juga membekali pelatih dengan teknik stabilisasi emosi praktis:
1. Teknik 4×4 Breathing Tarik napas 4 detik – tahan 4 detik – hembuskan 4 detik – tahan lagi 4 detik.
2. Teknik 4-7-8 Tarik 4 detik – tahan 7 detik – hembuskan 8 detik.
3. Relaksasi Otot Progresif Kencangkan otot – lepaskan perlahan. Identifikasi bagian tubuh yang tegang, lalu relaksasikan.
Teknik sederhana. Tapi efektif meredam gugup jelang pertandingan.
Hubungkan, Jangan Dibiarkan
PFA juga berarti menghubungkan atlet dengan dukungan yang tepat:
Psikolog atau konselor bila diperlukan
Memberi kesempatan menghubungi keluarga. Menjaga komunikasi yang suportif Dukungan kecil bisa mempercepat pemulihan mental. Karena setiap atlet sebenarnya punya kemampuan memulihkan diri. Hanya saja, progresnya berbeda-beda.
Mental Kuat, Prestasi Ikut Naik
Workshop ini jadi pengingat bahwa membangun atlet tak cukup dengan fisik dan taktik. Mental adalah fondasi. Semakin cepat krisis terdeteksi, semakin cepat performa pulih. Di era kompetisi ketat, sentuhan manusiawi bukan kelemahan.
Itu justru kekuatan.(*)






