nusatimes.id – Sepak bola tak lagi sekadar main di lapangan. Di Kota Gorontalo, si kulit bundar mulai “naik kelas” jadi bagian dari pendidikan! Program kolaborasi FIFA dan PSSI resmi digulirkan, dengan target jelas: pembinaan usia dini dari bangku sekolah dasar.
Wakil Ketua PSSI Gorontalo, Aven Hinelo, menegaskan program ini bukan proyek biasa. Ini gerakan besar untuk mendorong sepak bola Indonesia mendunia lewat fondasi yang kuat sejak usia dini.
“Ini program FIFA dan PSSI. Pembinaan berjenjang dimulai dari SD,” tegas Aven kepada awak media ini, Jum’at (17/4/2026)
Hadir pada acara penyerahan bola tersebut yakni Kadis Diknas Husin Ali, Waka PSSI Gorontalo Aven Hinelo, sekertaris PSSI Gorontalo Alan Wungguli, sekertaris Diknas, direktur kompetisi PSSI Oktarjon Ilahude, bendahara PSSI Fadli Luneto, dan pengurus PSSI Adnan Yahya.
Sekolah Jadi Lapangan, Lapangan Jadi Kelas!
Gebrakan datang dari Kadis Diknas Kota Gorontalo, Husin Ali. Ia melontarkan ide out of the box: memadukan pendidikan dan olahraga dalam satu napas, termasuk di lingkungan formal seperti pondok pesantren.
Konsepnya? Kota sebagai “ruang belajar”.
“Sekolah dan ruang publik bukan sekadar fasilitas olahraga, tapi jadi tempat belajar. Sepak bola masuk dalam sistem pembelajaran,” ujar Husin.
⚽ 13 Sekolah Dapat Bola Standar FIFA!
Dari proposal awal, tercatat 13 SD negeri langsung kecipratan bantuan bola berkualitas FIFA. Ini jadi amunisi awal untuk membangun fondasi teknik sejak usia dini.
Tak berhenti di situ, atmosfer makin panas dengan bergulirnya Walikota Cup dalam rangka HUT Kota Gorontalo ke-298. Pemerintah kota pun tak setengah hati.
“Kita support full ini!” jadi sinyal kuat bahwa program ini bukan sekadar wacana.
15 SSB Siap Naik Level
Langkah berikutnya? Dinas akan mengkaji sekitar 15 Sekolah Sepak Bola (SSB) di Kota Gorontalo. Targetnya jelas: dorong mereka jadi lembaga nonformal yang terstruktur dan diakui.
Tujuannya: jalur prestasi makin jelas tanpa mengorbankan pendidikan akademik. Anak tetap sekolah, tapi bakat bola juga diasah serius.
Tantangan: Prestasi vs Akademik
Namun jalan tak sepenuhnya mulus. Ada kendala klasik: manajemen siswa yang tersebar di banyak sekolah, dispensasi guru, hingga risiko benturan antara prestasi dan kewajiban akademik.
Guru dituntut adil. Siswa juga tak boleh dirugikan. Di sinilah peran kebijakan jadi krusial.
Game Plan Jelas!
Dinas sudah pasang target: Pelajari 15 SSB yang ada, Tentukan model lembaga nonformal terbaik, Dorong legalitas ke Kementerian Pendidikan. Jaga keseimbangan akademik & prestasi
Satu hal pasti: Gorontalo sedang menata masa depan sepak bola dari ruang kelas.
“Jika konsisten, bukan tak mungkin bibit-bibit lokal bakal bersinar di panggung nasional—bahkan dunia!,” pungkas Husin Ali. (*)






