nusatimes.id — Peta persaingan menuju PON XXII 2028 Nusa Tenggara akhirnya mulai jelas. Setelah melalui rapat koordinasi di KONI Pusat, pembagian cabang olahraga resmi diketok. Tuan rumah bersama (Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan DKI Jakarta) siap berbagi panggung demi konsep efisiensi tanpa beban pembangunan venue baru.
Ketua KONI NTB, Mori Hanafi, menyebut kesepakatan ini sebagai langkah strategis agar penyelenggaraan tetap berkualitas sekaligus realistis secara anggaran. Jakarta diplot sebagai daerah penyangga karena kesiapan fasilitasnya.
NTB Pegang 26 Cabor, Kombinasi Olympic dan Favorit Publik
Di wilayah NTB, total 26 cabang olahraga bakal digelar. Deretan cabor Olympic seperti panahan, atletik, basket, dayung, hingga angkat besi masuk daftar utama. Karate juga sukses diamankan, ditemani cabor populer seperti selam, esport, futsal, dan soft tennis.
Tak ketinggalan, cabor privilege tuan rumah seperti tarung derajat, muaythai, hapkido, biliar hingga berkuda-memanah turut diperjuangkan tetap tampil.
Jakarta Jadi Panggung Cabor Berbasis Fasilitas Besar
Sejumlah cabor yang membutuhkan venue berstandar tinggi resmi dipindahkan ke Jakarta. Mulai dari akuatik, anggar, senam, menembak, balap sepeda hingga tenis lapangan. Langkah ini diambil untuk menjaga kualitas pertandingan tanpa harus memaksakan pembangunan baru di daerah.
NTT Sajikan 22 Cabor, Dominan Nomor Olympic
NTT akan menjadi tuan rumah 22 cabang olahraga, termasuk bulutangkis, sepak bola, taekwondo, tinju, dan voli indoor. Cabor DBON seperti pencak silat dan wushu juga masuk agenda, ditambah cabor SEA Games seperti sepak takraw dan catur.
Unggulan Gorontalo Terpecah, Tantangan Logistik Menanti
Bagi kontingen Gorontalo, pembagian ini berarti strategi harus lebih matang. Berdasarkan rekam jejak medali di PON Aceh–Sumut 2024, sejumlah cabor andalan tetap berpotensi menyumbang podium, namun lokasinya tersebar.
Sebaran unggulan Gorontalo, di NTB ada cabor Atletik, Biliar, E-Sport, Karate, dan Muaythai. Sedangkan di NTT ada cabor Catur,
Taekwondo, Gateball, dan Sepak Takraw. Situasi ini membuat kontingen harus menyiapkan manajemen tim, logistik, dan adaptasi venue secara lebih detail. Namun di sisi lain, peluang tetap terbuka lebar sebab hampir semua lumbung medali masih dipertandingkan.
Sprint Menuju 2028
Dengan komposisi cabor yang sudah jelas, hitung mundur menuju PON 2028 resmi dimulai. Bagi Gorontalo, fokus kini tak lagi soal di mana bertanding, tetapi bagaimana memaksimalkan peluang di setiap arena. Targetnya satu: tetap kompetitif dan pulang membawa medali. (*)






