Scroll untuk baca artikel
DaerahGorontaloNasionalNusantara

Gorontalo Bercerita Jadi Panggung Generasi Muda Kenalkan Potensi Daerah

×

Gorontalo Bercerita Jadi Panggung Generasi Muda Kenalkan Potensi Daerah

Sebarkan artikel ini

nusatimes.id – Puluhan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan tampil dalam grand final Gorontalo Bercerita yang digelar di City Mall Gorontalo, Minggu (13/9/2026). Ajang yang digelar sebagai side event Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026 itu turut dihadiri Wakil Gubernur Gorontalo Idah Sayidah R. Habibie, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Parekrafpora) Provinsi Gorontalo Sultan Kalupe serta Sekretaris Dinas Romi Moge.

Tak sekadar menjadi arena adu kemampuan, Gorontalo Bercerita menjadi panggung bagi generasi muda untuk mengenalkan kekayaan pariwisata, budaya dan kreativitas daerah. Kepala Disparekrafpora Provinsi Gorontalo Sultan Kalupe mengatakan peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai TK hingga SMA.

Sebelum memasuki grand final, sebanyak 126 peserta mengikuti tahapan penyisihan. Dari jumlah tersebut, 21 peserta berhasil melaju ke babak final.

“Gorontalo Bercerita merupakan side event daripada Gorontalo Karnaval Karawo yang sudah dilaksanakan penyisihan pada beberapa minggu yang lalu,” kata Sultan Kalupe, Ahad (13/09/2026).

Menurut Sultan, terdapat empat kategori yang diperlombakan, yakni storytelling, baca puisi, karawo digital dan fotografi. Pada kategori storytelling, peserta tidak hanya dituntut mampu bercerita, tetapi juga mengangkat berbagai potensi yang dimiliki Gorontalo.

Mulai dari keindahan alam, destinasi wisata hingga budaya daerah menjadi materi yang dibawakan para peserta. Bahkan, ada peserta yang mengangkat budaya maupun lokasi di Gorontalo yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat.

“Yang pertama adalah storytelling yang bercerita tentang keindahan Gorontalo, pariwisata Gorontalo, tentang budaya Gorontalo. Bahkan ada budaya Gorontalo atau tempat di Gorontalo yang dulunya kita tidak tahu, diceritakan oleh anak-anak,” jelasnya.

Sementara kategori baca puisi juga mengangkat tema Gorontalo, pariwisata hingga karawo. Yang menarik, kategori karawo digital tidak hanya diikuti peserta dari Gorontalo. Peserta dari luar daerah, termasuk Jakarta dan Yogyakarta, turut ambil bagian dalam kompetisi tersebut.

“Lomba karawo digital ini, alhamdulillah diikuti oleh dua orang dari luar Gorontalo, dari Jakarta,” ungkap Sultan.

Adapun kategori fotografi diikuti fotografer Gorontalo dengan mengangkat tema pariwisata dan pelaksanaan Gorontalo Karnaval Karawo 2026. Memasuki grand final, 21 peserta kemudian bersaing memperebutkan posisi terbaik di masing-masing kategori.

“Alhamdulillah hari ini masuk grand final 21 orang kurang lebih akan memperebutkan juara satu, juara dua, juara tiga,” ujar Sultan.

Para pemenang dijadwalkan menerima penghargaan secara langsung dari Wakil Gubernur Gorontalo Idah Sayidah R. Habibie. Selain sertifikat, panitia juga menyiapkan bonus bagi para pemenang.

Idah Sayidah R. Habibie: Bukan Sekadar Lomba

Wakil Gubernur Gorontalo Idah Sayidah R. Habibie menilai Gorontalo Bercerita memiliki nilai lebih dari sekadar kompetisi. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap pengembangan kemampuan generasi muda. Melalui aktivitas bercerita, anak-anak dilatih meningkatkan imajinasi, daya ingat, empati sekaligus keberanian menyampaikan pendapat.

“Perhatian pemerintah terhadap anak bangsa dalam bentuk meningkatkan imajinasi, meningkatkan daya ingat, kemudian meningkatkan empati seseorang dengan bercerita, ini dilaksanakan dalam kegiatan Gorontalo Bercerita,” kata Idah.

Idah menyebut, berdiri di hadapan banyak orang dan menyampaikan cerita bukan pekerjaan mudah bagi anak-anak. Karena itu, ajang tersebut diharapkan mampu membangun kepercayaan diri sekaligus membuka ruang komunikasi yang lebih dekat antara anak dan orang tua.

“Tidak mudah untuk bercerita, tidak mudah untuk berdiri di sini, tidak mudah menyampaikan curhat kepada orang tua maupun permasalahan-permasalahannya,” tuturnya.

Idah juga mengingatkan pentingnya pengkaderan generasi muda untuk menjaga keberlangsungan kearifan lokal Gorontalo. Dia mencontohkan kegiatan Bokarawo yang melibatkan sekitar 500 pelajar se-Provinsi Gorontalo. Bahkan, kata Idah, terdapat anak sekolah dasar yang sudah mulai belajar menyulam.

Menurutnya, keterampilan dan budaya lokal harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kalau kita tidak ada pengkaderan, kita tidak melatih anak-anak kita, kearifan lokal yang Gorontalo miliki akan punah. Tidak ada yang meneruskan,” tegasnya.

Karena itu, berbagai lomba dan event yang melibatkan anak-anak perlu terus dikembangkan. Idah menilai kegiatan seperti Gorontalo Bercerita dapat menjadi magnet bagi generasi muda untuk semakin mencintai seni dan budaya daerah.

“Perlu diadakan lomba-lomba, event-event seperti ini untuk menambah daya tarik masyarakat, khususnya anak-anak di bidang seni yang ada di Gorontalo,” katanya.

Lebih jauh, Idah berharap konsep Gorontalo Bercerita tidak berhenti pada cerita mengenai keindahan alam dan destinasi wisata. Cerita, menurutnya, bisa menjadi media untuk memperkenalkan berbagai potensi lain, termasuk dunia usaha dan kisah sukses masyarakat Gorontalo.

“Seseorang sukses ini bisa diceritakan lewat cerita itu sendiri. Ini salah satu cara untuk menambah rasa empati, motivasi dan kemampuan kita bercerita,” ujarnya.

Dia pun mengapresiasi para peserta dan orang tua yang telah mendukung anak-anak mereka sejak tahapan penyisihan hingga grand final.

“Sebagai penutup, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Ibu peserta yang sudah dari babak penyisihan sudah berada di sini dua minggu yang lalu,” pungkasnya. (*)

Apa Komentar Anda?