Scroll untuk baca artikel
Headline

Merawat Tradisi Lewat Layar Lebar: Sutradara Van Sweet Hidupkan Kembali Budaya dan Kuliner Gorontalo di Film “Manis Yang Tertinggal”

×

Merawat Tradisi Lewat Layar Lebar: Sutradara Van Sweet Hidupkan Kembali Budaya dan Kuliner Gorontalo di Film “Manis Yang Tertinggal”

Sebarkan artikel ini

Nusatimes.id (Gorontalo)-Kekayaan budaya dan tradisi lokal Gorontalo kini mendapatkan panggung baru yang segar dan memikat. Melalui film budaya berjudul “Manis Yang Tertinggal” yang melangsungkan pemutaran perdananya di XXI Gorontalo pada Sabtu, 12 September 2026, Sutradara Van Sweet sukses meracik sebuah karya sinematik yang membawa misi besar untuk membangkitkan kembali gairah ekonomi kerakyatan dan kecintaan generasi muda terhadap identitas daerah.

Bagi Van Sweet, film ini lahir dari sebuah kepedulian mendalam terhadap produk-produk lokal yang selama ini berjuang di tengah ketatnya zaman.

“Banyak produk-produk UMKM yang sudah lama kita perjuangkan tapi agak sulit. Nah, makanya lewat film budaya harapannya bisa membangkitkan lagi perekonomian Gorontalo, terutama bagaimana generasi muda lebih mencintai budaya kita, terutama makanan tradisional Gorontalo kita,” ungkap Van Sweet.

Pemilihan Desa Asparaga sebagai pusat pengambilan gambar menyimpan ikatan emosional yang kuat. Wilayah yang berstatus sebagai desa binaan ini telah menjadi bagian dari perjalanan hidup Van Sweet sejak tahun 1997 saat dirinya mengajar anak-anak suku Polahi. “Makanya saya kembali lagi ke sana, bagaimana Asparaga ini menjadi tempat pusat lokasi pengambilan video dari film Manis Yang Tertinggal,” kenangnya.

Satu hal yang paling mencuri perhatian dari film ini adalah keputusan berani sang sutradara untuk menggandeng warga lokal—yang sebagian besar belum pernah mencicipi panggung teater atau dunia akting sama sekali—sebagai pemeran utama. Di luar dugaan, langkah tersebut justru menjadi kekuatan terbesar film ini.

“Karena ternyata masyarakat yang tidak pernah akting itu, yang tidak pernah ikut sanggar dan lain-lain, justru mereka lebih natural,” beber Van Sweet. Pendekatan ini dipilih agar penonton dapat merasakan kejujuran emosi dan keaslian kehidupan masyarakat setempat secara langsung tanpa sekat.

Di balik layar, proses produksi yang memakan waktu lima bulan sejak April hingga September ini sempat diiringi keraguan, terutama terkait impian membawa karya lokal ke jaringan bioskop komersial. Namun, berkat kerja keras tim, hambatan tersebut berhasil dipatahkan.

“Pertama kami merasa pemutaran di XXI itu tidak memungkinkan, tapi dengan tim-tim yang lain alhamdulillah kami bisa masuk di XXI untuk pemutaran perdana,” tambahnya penuh syukur.

Usai pemutaran perdananya di XXI, film ini akan dibawa ke Asparaga pada tanggal 16, gelombang perjalanan “Manis Yang Tertinggal” belum usai. Film ini dipersiapkan untuk menggelar roadshow ke berbagai pelosok daerah. Berkolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan dan memanfaatkan bioskop keliling, karya ini siap menjemput penontonnya hingga ke sudut-sudut desa, memastikan bahwa napas budaya Gorontalo terus berdenyut dan dirayakan oleh semua kalangan.

Apa Komentar Anda?