nusatimes.id – Nama AKP Dr. H. Iswan Brandes kerap membuat publik terhenyak. Perwira aktif Polda Gorontalo itu memiliki deretan gelar akademik dan profesi yang tak lazim bagi seorang polisi: total 14 gelar.
Namun siapa sangka, jalan panjang tersebut berawal dari kegagalan. Sebelum diterima sebagai anggota Polri, Iswan sempat mengenyam bangku kuliah S1, namun terpaksa berhenti di tengah jalan.
“Sebelum diterima di kepolisian, saya kuliah S1, tapi putus,” ujar Iswan, kepada awak media ini.
Setelah resmi menjadi anggota Polri, ia bangkit. Ia kembali kuliah S1 Pendidikan Agama Islam di IAIN Sultan Amai Gorontalo dan lulus pada 2009. Minat awalnya pada psikologi, namun karena program studi tak dibuka, ia memilih jalur yang paling mendekati.
Keputusan itu sempat dicibir sejumlah senior. Iswan tak peduli.
Saat bertugas di Brimob, ia melihat waktu luang di luar jam dinas sebagai peluang. Bukan nongkrong atau touring, ia memilih kuliah. Dalam waktu sekitar sepuluh tahun, berbagai gelar S2, S3, hingga sertifikasi profesi diraih, bahkan dijalani secara bersamaan.
“Hampir sepuluh tahun saya nyaris tidak punya waktu istirahat yang utuh,” katanya.
Iswan menegaskan, pendidikan bukan untuk mengejar pangkat. Namun regulasi Polri yang memberi percepatan kenaikan pangkat bagi anggota berpendidikan membuat kariernya ikut melesat.
“Sekolah bukan tujuan pangkat. Itu bonus,” tegasnya.
Gelar doktor diraihnya pada usia 36 tahun. Seluruh target akademiknya dituntaskan sebelum usia 40 tahun, sesuai pesan seorang profesor yang ia pegang teguh.
Semangat belajarnya berakar dari sosok ayahnya, seorang mualaf yang tak sempat mengenyam pendidikan tinggi akibat tekanan ekonomi dan sosial. Wasiat sang ayah sederhana namun keras: anak harus berjuang lebih dari orang tuanya.
“Ayah saya orang yang paling berjasa dalam hidup saya,” ucap Iswan.
Kini, AKP Iswan Brandes selain aktif sebagai dosen Pascasarjana Universitas Gorontalo. Ia tengah mengurus kenaikan jabatan akademik ke lektor, dengan target menjadi guru besar. Ia juga tercatat sebagai salah satu wasit cabang olahraga kurash berlisensi internasional yang dimiliki Indonesia. (*)






