nusatimes.id – Kongres PSSI Gorontalo mulai memasuki fase penting. Namun, minimnya kandidat yang mendaftarkan diri sebagai calon Ketua PSSI Gorontalo justru memunculkan sorotan. Mantan Manajer Persidago Gorontalo, Helmy Hippy, ikut angkat bicara. Sosok yang dikenal sebagai salah satu motor klub kebanggaan Kabupaten Gorontalo itu menilai sepinya peminat tidak lepas dari persyaratan pencalonan yang dianggap cukup berat.
Menurut Helmy, sejumlah figur kemungkinan mengurungkan niatnya karena terbentur persyaratan yang ditetapkan panitia pelaksana Kongres PSSI Gorontalo.
“Sepi karena banyak yang kurang minat sehubungan persyaratan dirasa berat oleh para calon,” ujar Helmy, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua KONI Kabupaten Gorontalo.
Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah ketentuan calon Ketua PSSI Gorontalo harus memiliki pengalaman aktif di sepak bola sedikitnya lima tahun. Pengalaman tersebut juga wajib dibuktikan melalui Curriculum Vitae (CV) serta surat keterangan dari anggota PSSI untuk setiap pengalaman sepak bola yang dicantumkan.
Bagi Helmy, aturan tersebut berpotensi mempersempit peluang figur-figur di luar lingkaran sepak bola yang sebenarnya memiliki motivasi besar untuk membawa perubahan bagi sepak bola Gorontalo. Padahal, menurut dia, kemampuan manajerial dan dukungan finansial juga menjadi faktor penting dalam menggerakkan roda organisasi.
“Saya rasa syarat ini cukup membatasi ruang gerak figur-figur di luar yang berpengalaman lima tahun di sepak bola untuk maju sebagai calon. Padahal ia punya keinginan besar dan finansial cukup membantu menjalankan roda organisasi,” kata Helmy.
Helmy berpandangan, pengalaman teknis di sepak bola tidak harus seluruhnya dimiliki oleh seorang ketua. Sebab, dalam struktur kepengurusan PSSI nantinya terdapat Sekretaris Umum maupun wakil-wakil ketua yang bisa membantu ketua dalam menjalankan aspek teknis organisasi sepak bola.
“Dan mungkin cukup orang-orang yang membantu ketua yang harus punya pengalaman itu, toh nanti ada Sekum dan wakil-wakil ketua yang harus paham teknis di sepak bola,” lanjutnya.
Helmy berharap persyaratan pencalonan bisa menjadi bahan evaluasi agar lebih banyak figur potensial memiliki kesempatan untuk ikut bertarung dalam Kongres PSSI Gorontalo. Bagi dia, semakin banyak kandidat yang muncul, semakin terbuka pula ruang bagi pemilik suara untuk memilih sosok terbaik yang dinilai mampu membawa sepak bola Gorontalo melangkah lebih jauh.
Kini, perhatian publik sepak bola Gorontalo tertuju pada proses pencalonan. Apakah bakal muncul kandidat-kandidat baru yang siap mengambil tantangan dan menawarkan visi besar untuk masa depan sepak bola daerah? Menarik ditunggu. (*)






