Scroll untuk baca artikel
Olahragasepak bola

Legenda Timnas Indonesia dan Persija Bob Hippy Tutup Usia

×

Legenda Timnas Indonesia dan Persija Bob Hippy Tutup Usia

Sebarkan artikel ini

nusatimes.id – Sepak bola Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok pentingnya. Legenda Timnas Indonesia dan Persija Jakarta, Bob Hippy, meninggal dunia pada Sabtu (5/9/2026). Bob Hippy mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 16.30 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Rencananya, jenazah Bob Hippy akan disemayamkan di rumah duka di kawasan Taman Duta, Pondok Indah, Jakarta.

Kepergian Bob meninggalkan luka mendalam bagi sepak bola nasional. Bukan hanya sebagai mantan pemain Timnas Indonesia dan Persija, Bob juga dikenal sebagai sosok yang kemudian mengabdikan hidupnya dari balik meja kepengurusan.

Juara Asia, Torehan Emas Generasi 1960-an

Nama Bob Hippy menjadi bagian dari salah satu generasi emas sepak bola Indonesia pada era 1960-an. Ia masuk dalam skuad Indonesia yang berhasil meraih gelar juara Piala Asia U-19 1961 di Bangkok. Saat itu, Indonesia bersaing dengan sejumlah tim kuat Asia, seperti Vietnam Selatan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Burma.

Indonesia kemudian bermain imbang 0-0 kontra Burma dalam pertandingan penentuan gelar. Bob menjadi salah satu pemain penting dalam perjalanan tersebut. Bahkan, ia disebut sebagai pencetak gol terbanyak Indonesia dalam perjalanan menuju gelar juara.

Setelah rombongan tim kembali ke Tanah Air, Bob dan para pemain lainnya mendapat sambutan dari Ketua Umum PSSI kala itu, Abdul Wahab Djojohadikoesoemo. Sebuah pencapaian yang hingga kini menjadi bagian dari sejarah emas sepak bola Indonesia.

Berawal dari Lapangan Banteng

Karier sepak bola Bob Hippy dimulai sejak usia muda. Saat bersekolah di SMP Negeri III Manggarai, Jakarta, Bob mulai serius mengasah kemampuan sepak bolanya. Ia bergabung dengan Merdeka Boys Football Association yang menjalani latihan di Lapangan Banteng. Bakatnya kemudian semakin berkembang di bawah arahan Joel Lambert atau yang akrab dipanggil Si Bung.

Menariknya, Bob bukan pemain yang terpaku pada satu posisi. Ia mampu bermain sebagai striker, gelandang kanan hingga bek kanan. Kemampuan serbabisa itu akhirnya mengantarkannya ke Persija Jakarta. Namun, jalan Bob menuju tim utama tidak langsung mulus. Persija saat itu dihuni banyak pemain berkualitas sehingga Bob harus lebih dulu bersabar sebagai pemain cadangan.

Setelah kurang lebih tiga tahun, kesempatan akhirnya datang. Bob dipercaya masuk sebagai pemain inti dan mulai menunjukkan kualitasnya di level tertinggi sepak bola Indonesia.

Menembus Amerika hingga Eropa

Perjalanan Bob tidak berhenti di kompetisi domestik. Saat melanjutkan pendidikan, ia tetap aktif bermain sepak bola. Bahkan pada 1969, Bob berangkat ke Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam, Bob menjalani dua peran sekaligus: menuntut ilmu dan bermain sepak bola untuk tim kampusnya.

Pengalamannya pun semakin luas. Ia sempat membawa timnya menjalani pertandingan hingga Inggris, Spanyol dan sejumlah negara Eropa. Sebuah perjalanan yang cukup langka bagi pesepak bola Indonesia pada zamannya. Bob bahkan pernah menyebut dirinya sebagai satu-satunya pemain Indonesia yang memperkuat tim di Amerika Serikat sekaligus mendapatkan penghargaan Hall of Fame dari University of America.

Dari Lapangan ke Kursi Pengurus

Setelah gantung sepatu, Bob Hippy tidak benar-benar meninggalkan sepak bola. Ia melanjutkan pengabdiannya melalui jalur kepengurusan, baik bersama Persija maupun PSSI. Perhatiannya terhadap masa depan sepak bola Indonesia sangat besar, terutama dalam urusan pembinaan pemain muda.

Bob berkali-kali menekankan pentingnya membangun Timnas Indonesia dari fondasi usia muda. Menurutnya, kompetisi yang berkualitas menjadi salah satu kunci untuk melahirkan pemain-pemain tangguh.

Namanya semakin menonjol dalam kepengurusan PSSI periode 2011-2015.

Saat itu, Bob dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis. Di antaranya Ketua Komite Sepak Bola, Ketua Komite Pengembangan Sepak Bola Usia Muda, serta Wakil Ketua Komite Status Pemain. Bob juga ikut menangani koordinasi Timnas Indonesia.

Di tengah situasi sepak bola nasional yang sempat diwarnai dualisme kompetisi, Bob terlibat dalam pembahasan program Timnas dan berusaha memastikan pemain-pemain potensial tetap memiliki kesempatan mengenakan jersey Merah Putih.

Dedikasi yang Tak Pernah Padam

Bagi Bob Hippy, sepak bola bukan sekadar soal menang atau kalah di lapangan. Pengalamannya sebagai pemain membuat Bob memahami betul dinamika yang dihadapi pesepak bola. Karena itu, setelah tidak lagi aktif bermain, ia memilih tetap berada di lingkungan sepak bola dan ikut memikirkan bagaimana olahraga ini bisa berkembang.

Kini, perjalanan panjang itu telah berakhir. Dari Lapangan Banteng, Persija, Timnas Indonesia, Amerika Serikat hingga ruang-ruang kepengurusan PSSI, Bob Hippy meninggalkan jejak panjang. Sepak bola Indonesia terlebih Gorontalo kehilangan satu lagi legenda. Namun, nama dan pengabdiannya akan tetap menjadi bagian dari cerita panjang perjalanan sepak bola Tanah Air. (*)

Apa Komentar Anda?