nusatimes.id – Perjuangan empat pesilat Gorontalo di Bandung Open Tournament Pencak Silat Tingkat Nasional 2026 berbuah manis. Tampil di tengah persaingan ketat ribuan pesilat, kontingen Gorontalo sukses membawa pulang medali dari ajang yang berlangsung 26–30 Agustus 2026 di GOR Bandung, Jalan Jakarta.
Mengusung tema “SPIRIT TO THE OLYMPICS”, kejuaraan nasional tersebut menjadi panggung pembuktian bagi para pesilat dari berbagai daerah. Tak ingin sekadar menjadi pelengkap, empat atlet Gorontalo tampil habis-habisan di atas gelanggang.
Hasilnya cukup membanggakan. Sabil berhasil merebut medali emas di kelas under 45. Sementara Ruslan harus puas dengan medali perak setelah melewati persaingan sengit di kelas yang sama.
Dua atlet lainnya, Fauzan yang turun di kelas A dan Siti di kelas E, juga tampil memberikan perlawanan terbaiknya. Keduanya menjadi bagian penting dari perjuangan kontingen Gorontalo dalam turnamen yang diikuti sekitar 2.126 pesilat tersebut.
Pelatih pencak silat Gorontalo, Dedy Punu, mengatakan capaian tersebut tidak datang secara instan. Menurutnya, hasil positif yang diraih para atlet merupakan buah dari kerja keras dan kedisiplinan selama menjalani program latihan.
“Keberhasilan ini tidak lain berkat kerja keras dan disiplin selama latihan,” kata Dedy.
Ia menegaskan, perjuangan para pesilat Gorontalo tidaklah mudah. Mereka harus berhadapan dengan ribuan peserta yang datang dengan kekuatan terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Dengan persaingan sebesar itu, raihan emas dan perak menjadi sinyal positif bagi perkembangan pencak silat Gorontalo. Prestasi tersebut sekaligus menjadi modal penting bagi para atlet untuk terus meningkatkan kemampuan menghadapi kejuaraan-kejuaraan berikutnya.
Ajang bertema “SPIRIT TO THE OLYMPICS” ini pun menjadi pengalaman berharga bagi empat pesilat Gorontalo. Bukan sekadar mengejar medali, mereka juga mendapatkan jam terbang dan pengalaman bertanding di level nasional.
Kini, pekerjaan rumah berikutnya adalah menjaga konsistensi. Sebab, podium nasional bukan garis akhir. Justru dari Bandung, para pesilat Gorontalo punya alasan lebih kuat untuk terus berlatih dan membidik prestasi yang lebih tinggi. (*)






