Scroll untuk baca artikel
KarateNasionalNusantaraOlahraga

FORKI Gorontalo Bidik Prestasi Dunia, Piala Gubernur Diikuti Hampir 700 Atlet

×

FORKI Gorontalo Bidik Prestasi Dunia, Piala Gubernur Diikuti Hampir 700 Atlet

Sebarkan artikel ini

nusatimes.id – Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Provinsi Gorontalo memasang target besar untuk memperkuat prestasi karate di level nasional hingga internasional. Konsolidasi organisasi, pembinaan atlet berjenjang, serta peningkatan kualitas pelatih dan wasit menjadi fokus kepengurusan periode 2025–2029.

Komitmen tersebut ditegaskan Ketua FORKI Gorontalo, Daniel Ibrahim, dalam sambutannya pada pelantikan pengurus sekaligus rapat kerja FORKI Provinsi Gorontalo, Jumat (23/10/2026). Daniel menegaskan, seluruh perguruan karate di Gorontalo harus bersatu dan mengesampingkan perbedaan demi satu tujuan, yakni mengharumkan nama daerah melalui prestasi olahraga.

“Walaupun berbeda perguruan, tujuan kita satu, yaitu prestasi untuk Provinsi Gorontalo,” tegas Daniel.

Menurutnya, kekuatan FORKI tidak hanya terletak pada kemampuan atlet di atas tatami, tetapi juga pada soliditas organisasi dan kesinambungan pembinaan dari tingkat usia dini hingga jenjang senior. Dia menyebutkan, terdapat 10 perguruan karate yang bernaung di bawah FORKI Gorontalo. Seluruhnya diakomodasi dalam kepengurusan dengan prinsip struktur yang ramping, tetapi memiliki fungsi yang optimal.

Daniel memaparkan tiga agenda utama kepengurusannya. Pertama, memperkuat solidaritas organisasi dan persatuan seluruh perguruan. Kedua, meningkatkan pembinaan atlet secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan. Ketiga, meningkatkan kualitas pelatih, wasit, dan juri sekaligus memperbanyak kompetisi.

Pembinaan, kata dia, harus dimulai dari usia sekolah dasar, berlanjut ke jenjang pendidikan menengah hingga perguruan tinggi. Dengan pola tersebut, atlet potensial dapat dipantau dan dikembangkan secara konsisten. FORKI Gorontalo juga akan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota agar pembinaan atlet tidak berhenti pada satu kelompok usia atau satu kejuaraan saja.

“Pembinaan harus berkelanjutan. Kita ingin atlet yang dibina sejak usia dini bisa terus berkembang sampai mampu berprestasi di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Piala Gubernur Jadi Ajang Pembuktian

Keseriusan FORKI Gorontalo juga ditunjukkan melalui rencana penyelenggaraan Kejuaraan Daerah (Kejurda) Karate Piala Gubernur pada 30 Oktober hingga 1 November 2026. Daniel mengungkapkan, pendaftaran kejuaraan tersebut telah mendekati 700 atlet. Jumlah itu menjadi sinyal positif bagi perkembangan karate di Gorontalo sekaligus membuka ruang kompetisi bagi atlet dari berbagai perguruan.

Kejuaraan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi juga menjadi sarana evaluasi hasil latihan dan pemantauan atlet potensial. Di sisi lain, FORKI Gorontalo akan meningkatkan kompetensi wasit dan juri melalui pelatihan serta kerja sama dengan pengurus terkait. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung penyelenggaraan kompetisi yang berkualitas.

Daniel juga berharap dukungan pemerintah daerah dan DPRD terus diperkuat, termasuk dalam hal penganggaran pembinaan olahraga pada tahun-tahun mendatang.

Hadi Tjahjanto Tekankan Pembinaan dan Kekompakan

Ketua Umum PB FORKI, Marsekal TNI (Purn.) Hadi Tjahjanto, dalam arahannya meminta kepengurusan baru FORKI Gorontalo segera menyusun program kerja yang terukur, realistis, dan berorientasi pada peningkatan prestasi atlet. Hadi mengingatkan, pergantian kepengurusan merupakan bagian wajar dari dinamika organisasi. Namun, setiap kepengurusan harus mampu melanjutkan program positif yang telah dirintis pendahulunya sekaligus memperbaiki kekurangan yang masih ada.

“Program kerja harus berorientasi pada peningkatan prestasi atlet Gorontalo. Apa yang sudah dilakukan dengan baik oleh pimpinan sebelumnya harus dilanjutkan dan dikembangkan,” tegas Hadi.

Dia juga menekankan pentingnya konsolidasi organisasi dengan melibatkan seluruh pengurus FORKI kabupaten dan kota serta perguruan karate. Komunikasi yang terbuka dinilai menjadi kunci untuk menyelesaikan persoalan organisasi tanpa merugikan atlet. Menurut Hadi, konflik internal tidak boleh membuat atlet menjadi korban. Persoalan di tingkat pengurus harus diselesaikan melalui dialog dan musyawarah dengan tetap mengutamakan kepentingan organisasi.

Selain konsolidasi, Hadi menyoroti pentingnya mengaktifkan FORKI kabupaten dan kota, memperluas pembinaan secara merata, serta meningkatkan kompetensi pelatih dan wasit sesuai standar nasional. Dia meyakini, apabila lima prioritas tersebut dijalankan secara konsisten, fondasi organisasi dan pembinaan karate di Gorontalo akan semakin kuat.

Zaskia Jadi Bukti Gorontalo Punya Potensi Dunia

Dalam kesempatan itu, Hadi juga menyoroti potensi besar atlet karate Gorontalo yang telah menunjukkan kemampuan bersaing di panggung internasional. Salah satu nama yang mendapat perhatian ialah Zaskia Putri Salurante. Atlet tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan dari daerah mampu melahirkan karateka yang bersaing dengan atlet-atlet terbaik dunia.

Hadi menyebutkan, Indonesia mengirimkan 11 atlet untuk mengikuti kejuaraan dunia WKF kategori junior dan U-21 pada 14–18 Oktober 2026. Dari kejuaraan tersebut, Indonesia meraih satu medali perunggu melalui nomor kata perorangan putri yang dipersembahkan Zaskia. Bagi Hadi, capaian tersebut patut diapresiasi karena persaingan di level dunia menuntut kemampuan teknik, mental, disiplin, dan daya juang tinggi.

 

 

Prestasi Zaskia juga tidak berhenti di situ. Atlet asal Gorontalo tersebut sebelumnya meraih medali emas pada kejuaraan di Vietnam serta emas pada ajang internasional di Fujairah, Uni Emirat Arab. Rentetan prestasi itu memperlihatkan bahwa atlet Gorontalo memiliki peluang besar untuk terus berkembang apabila mendapat dukungan pembinaan yang tepat.

Hadi pun meminta FORKI Gorontalo bersama pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan latihan, kualitas pelatih, kesempatan mengikuti kejuaraan, serta dukungan lain yang diperlukan atlet untuk berkembang secara optimal.

“Kita berharap FORKI Gorontalo mampu membangun sistem pembinaan yang dapat menemukan, mengembangkan, dan mempertahankan atlet-atlet potensial,” ujarnya.

Dia optimistis Gorontalo masih memiliki banyak atlet berbakat yang belum sepenuhnya teridentifikasi. Karena itu, pembinaan harus diperluas dan dilakukan secara konsisten agar semakin banyak karateka daerah mampu menembus panggung internasional.

Karate Bukan Sekadar Medali

Hadi juga mengingatkan bahwa pembangunan olahraga karate tidak boleh hanya berorientasi pada perolehan medali. Lebih dari itu, karate memiliki tanggung jawab membentuk karakter generasi muda Indonesia. Nilai disiplin, keberanian, pengendalian diri, dan kerja keras harus menjadi bagian penting dari proses pembinaan.

Atlet yang hebat, menurutnya, bukan hanya mereka yang mampu mengalahkan lawan di atas tatami, melainkan juga mereka yang memiliki karakter kuat dan mampu memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat. Dengan dukungan pemerintah daerah, soliditas seluruh perguruan, serta sistem pembinaan yang berkesinambungan, FORKI Gorontalo diharapkan mampu melahirkan lebih banyak karateka berprestasi seperti Zaskia.

Kini, tantangannya adalah memastikan prestasi yang telah diraih bukan menjadi puncak pencapaian, melainkan titik awal bagi lahirnya generasi baru karateka Gorontalo yang siap bersaing di level nasional dan dunia. (*)

Apa Komentar Anda?