nusatimes.id – Menjelang pelaksanaan musyawarah provinsi, dinamika di tubuh pencak silat Gorontalo mulai memanas. Pemerhati pencak silat Gorontalo, Muhamad Ridwan, secara terbuka menagih komitmen Ketua IPSI Gorontalo yang pernah disampaikan saat pencalonan lima tahun silam.
Ridwan mengingatkan kembali pernyataan sang ketua yang kala itu menyatakan siap mundur apabila cabang olahraga pencak silat gagal meloloskan atlet ke PON 2024 Aceh-Sumut. Namun kenyataannya, target tersebut tidak tercapai.
“Saya hanya ingin mengingatkan kembali akan janji dulu waktu mencalonkan diri sebagai Ketua IPSI Gorontalo. Kalau janji itu tidak terealisasi lantas atas dasar apa harus percaya untuk pencalonan kali ini,” tegas Ridwan.
Menurutnya, kegagalan memenuhi target prestasi seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh insan pencak silat di daerah. Apalagi, janji tersebut pernah disampaikan langsung sebagai bagian dari komitmen saat meminta dukungan untuk memimpin organisasi.
Tak hanya menyoroti aspek prestasi, Ridwan juga mengkritisi jalannya roda organisasi selama masa kepengurusan yang akan berakhir. Ia menilai sejumlah agenda penting organisasi tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah tidak pernah dilaksanakannya Rapat Kerja Daerah (Rakerda), yang sejatinya merupakan agenda wajib dalam tata kelola organisasi olahraga.
“Rakerda saja tidak pernah dibuat, padahal itu bagian dari agenda organisasi yang wajib dilakukan,” lanjutnya.
Kondisi tersebut, menurut Ridwan, menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan IPSI Gorontalo dalam lima tahun terakhir. Ia berharap momentum musyawarah kali ini dapat dimanfaatkan untuk menentukan arah baru pembinaan pencak silat di Gorontalo.
Ridwan pun mengajak seluruh insan silat untuk lebih cermat dalam menentukan pilihan pemimpin organisasi ke depan. Baginya, figur yang memimpin IPSI tidak cukup hanya memiliki pemahaman tentang pencak silat, tetapi juga harus mampu menjalankan organisasi secara profesional dan terukur.
“Sebagai pemerhati pencak silat, saya hanya menyarankan agar carilah sosok pemimpin yang bukan hanya paham, tapi mampu dan jelas dalam menjalankan roda organisasi,” harap Ridwan.
Musyawarah IPSI Gorontalo kali ini diprediksi akan menjadi momentum penting bagi masa depan pencak silat daerah. Selain menjadi ajang memilih nahkoda baru, forum tersebut juga diharapkan mampu melahirkan komitmen kuat untuk mengembalikan prestasi serta memperbaiki tata kelola organisasi demi kemajuan pencak silat Gorontalo di level nasional. (*)






