nusatimes.id – ASBG menunjukkan mental bangkit pada match kedua kategori U15. Setelah kalah tipis 1-2 dari Balioto pada laga sebelumnya, ASBG tampil lebih agresif dan sukses mengamankan kemenangan 3-1 atas Beringin Muda.
Hasil ini menjadi suntikan kepercayaan diri bagi pasukan ASBG dalam perburuan tiket menuju babak berikutnya. Manajer ASBG, Jefry, mengapresiasi permainan anak asuhnya yang tampil lebih bersemangat dibanding laga perdana.
“Alhamdulillah, untuk pertandingan match kedua, anak-anak bermain sangat intensif. Mereka belajar dari kekalahan 2-1 dari Balioto dan bangkit dengan semangat lebih besar,” kata Jefry usai pertandingan di Stadion Merdeka, Kota Gorontalo, Selasa *18/8/2026).
Menurutnya, target ASBG sudah jelas, yakni melangkah sejauh mungkin hingga babak final. Kemenangan atas Beringin Muda menjadi modal penting untuk mewujudkan ambisi tersebut. Namun, Jefry juga menyoroti kondisi lapangan yang menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain. Permukaan lapangan yang keras membuat pemain kesulitan mengembangkan permainan, bahkan berpotensi memicu cedera.
Salah satu gol yang bersarang ke gawang ASBG juga disebut terjadi dari situasi bola mati. Kondisi lapangan membuat pertandingan berlangsung tidak mudah bagi kedua tim.
“Lapangan memang menjadi kendala. Kondisinya keras dan banyak anak-anak yang cedera gara-gara lapangan. Tetapi kami tetap harus bermain dan beradaptasi dengan kondisi yang ada,” ujarnya.
ASBG kini menatap match ketiga dengan optimisme tinggi. Mereka dijadwalkan menghadapi Korental United. Laga tersebut dipandang Jefry sebagai pertandingan krusial dalam menentukan langkah ASBG ke fase berikutnya.
“Match ketiga melawan Korental United Insyaallah menjadi partai penentuan bagi kami untuk bisa lolos ke fase berikutnya,” tegasnya.
Sementara itu, pada laga U15 lainnya, Cendrawasih harus puas bermain imbang 0-0 melawan Kreasindo. Dengan kemenangan 3-1 tersebut, ASBG kini memiliki modal penting untuk menghadapi laga penentuan. Mental sudah bangkit, tiga poin sudah dikantongi, dan tiket fase berikutnya kini menjadi sasaran utama. (*)






