Scroll untuk baca artikel
Olahraga

Coach Iki Absen di Musyawarah, Dualisme Muaythai Indonesia Jadi Sorotan

×

Coach Iki Absen di Musyawarah, Dualisme Muaythai Indonesia Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini

 

nusatimes.id – Musyawarah Pengurus Provinsi Muaythai Indonesia Gorontalo yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Gorontalo menyisakan tanda tanya. Sejumlah figur yang selama ini dikenal dekat dengan perkembangan cabang olahraga asal Negeri Gajah Putih itu tidak terlihat hadir dalam agenda penting tersebut.

Salah satu nama yang menjadi perhatian adalah pelatih Muaythai Gorontalo, Kiki Haras. Absennya sosok yang akrab disapa Coach Iki itu memunculkan berbagai spekulasi di kalangan insan olahraga daerah.

Saat dikonfirmasi, Coach Iki menegaskan dirinya sebenarnya menerima undangan untuk menghadiri musyawarah tersebut. Namun, karena masih berada di luar daerah, dirinya belum sempat datang ke lokasi kegiatan.

“Saya diundang kok, cuma saya memang belum sempat datang karena masih dalam perjalanan keluar kota,” ujar Coach Iki singkat, Ahad (31/5/2026).

Kendati demikian, ketidakhadiran pelatih yang selama ini aktif membina atlet-atlet Muaythai Gorontalo itu tetap memunculkan pertanyaan. Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir organisasi Muaythai Indonesia di tingkat pusat tengah diterpa isu dualisme kepengurusan.

Konflik tersebut disebut berawal dari dugaan pelanggaran Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Kubu Nadim Al Farell menuding pihak lawan melakukan sejumlah langkah organisasi yang dianggap tidak sesuai aturan, termasuk menunjuk Pelaksana Tugas (PLT) pada 30 Pengurus Provinsi tanpa terlebih dahulu mencabut Surat Keputusan (SK) kepengurusan lama yang masih sah.

Selain itu, muncul pula tudingan adanya pembekuan, penghentian, hingga pergantian kepengurusan daerah secara sepihak tanpa melalui mekanisme organisasi yang jelas, seperti pemberian peringatan ataupun pelaksanaan rapat resmi.

Perseteruan kedua kubu juga semakin memanas dengan adanya klaim dukungan yang berbeda. Kubu Farel-Lutfi mengaku memperoleh mandat dari 1.274 atlet di seluruh Indonesia. Mereka bahkan menuding kubu lawan hanya didukung oleh tiga Pengprov lama.

Situasi yang belum sepenuhnya kondusif di tingkat nasional ini membuat sejumlah pihak memilih berhati-hati dalam mengambil sikap. Meski demikian, pelaksanaan musyawarah Muaythai Gorontalo tetap berjalan dengan harapan organisasi di daerah dapat terus fokus pada pembinaan atlet dan persiapan menghadapi berbagai agenda kompetisi mendatang.

Kini, perhatian insan Muaythai Gorontalo tertuju pada bagaimana dinamika organisasi di tingkat pusat akan berakhir, sekaligus memastikan pembinaan prestasi atlet tidak ikut terdampak oleh konflik yang terjadi di luar arena pertandingan. (*)

Apa Komentar Anda?