Nusatimes.id, BONE BOLANGO – Langit di atas langit Suwawa malam itu terasa lebih pekat. Kabar yang menjalar lewat pesan singkat pada Minggu malam, 7 Juni 2026 pukul 19.54 WITA, seketika menghentikan detak obrolan di kedai-kedai kopi dan teras rumah warga. H. Mohamad Kilat Wartabone, sosok yang selama belasan tahun menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi pemerintahan Kabupaten Bone Bolango, telah mengembuskan napas terakhirnya di RSUD Aloei Saboe.
Bagi masyarakat Bone Bolango, kepergian cucu Pahlawan Nasional Nani Wartabone di usia 65 tahun ini bukan sekadar kehilangan seorang mantan pejabat. Ini adalah hilangnya sebuah jangkar ketenangan—seorang tokoh yang tahu persis bagaimana cara merawat harmoni di tengah badai dinamika politik lokal.
Meletakkan Batu Pertama Bersama Ismet Mile
Untuk memahami siapa Kilat Wartabone, kita harus memutar kembali ingatan pada tahun 2005. Bone Bolango kala itu adalah sebuah daerah otonom baru hasil pemekaran yang masih meraba bentuk. Infrastruktur masih terbatas, dan ego sektoral rentan memicu perpecahan.
Di masa rintisan itulah, duet Ismet Mile dan Kilat Wartabone (ISKI) lahir sebagai pasangan Bupati dan Wakil Bupati definitif pertama pilihan rakyat. Jika Ismet Mile adalah sosok eksekutor birokrasi yang bergerak dinamis, maka Kilat Wartabone adalah penyeimbang yang ulung. Beliau mendatangi pelosok-pelosok Bone Pantai hingga Suwawa, mendengarkan keluhan rakyat dengan kesahajaan yang alami. Periode 2005–2010 menjadi fondasi emas yang membuktikan bahwa Kilat adalah tipe pemimpin yang selesai dengan dirinya sendiri; beliau hadir untuk melayani, bukan untuk dilayani.
Tiga Periode, Dua Nakhoda, Satu Kesetiaan
Sangat jarang ada figur politisi di Indonesia yang bisa bertahan sebagai Wakil Bupati selama tiga periode dengan dinamika mitra kerja yang berbeda-beda. Namun, Kilat Wartabone mematahkan anomali itu.
Setelah menuntaskan pengabdian bersama Ismet Mile, sejarah kembali memanggilnya di periode 2010–2015. Melalui mekanisme di DPRD pada awal 2014, beliau kembali naik menjabat demi mendampingi Hamim Pou yang bertransisi menjadi Bupati. Tak berhenti di situ, rakyat kembali mempercayakan amanah pada Pilkada berikutnya, membuat duet Hamim-Kilat mengawal Bone Bolango dari tahun 2016 hingga awal 2021.
Bagaimana beliau bisa bertahan di puncak kekuasaan begitu lama tanpa riak konflik yang berarti? Jawabannya terletak pada watak kenegarawanannya. Kilat tahu kapan harus berdiri di depan sebagai peredam konflik, dan kapan harus menyokong dari belakang untuk memberi panggung bagi bupatinya. Kebijaksanaan konvensional adat “Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kitabullah” bukan sekadar slogan di bibirnya, melainkan kompas dalam birokrasi.
Menakhodai Beringin dengan Teduh
Jejak emas Kilat Wartabone juga tertancap kuat di panggung politik praktis sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Bone Bolango. Di tangan beliau, Golkar tidak menjelma menjadi mesin politik yang beringas, melainkan rumah bernaung yang teduh bagi kader-kader muda.
Beliau berhasil menyatukan faksi-faksi politik di parlemen, memastikan hubungan antara eksekutif dan legislatif berjalan selaras demi kepentingan rakyat. Bagi Kilat, warna baju partai boleh berbeda di masa pemilu, namun begitu fajar pembangunan menyingsing, semua harus melebur untuk kemajuan Bone Bolango.
Kembali ke Haribaan Tanah Leluhur
Setelah prosesi adat Mopotolungo pada Februari 2021 yang menandai akhir masa jabatannya, Kilat memilih menepi dari hiruk-pikuk politik. Beliau pulang ke rumahnya di Desa Boludawa, Kecamatan Suwawa, menghabiskan waktu bersama anak, cucu, dan tanah pertaniannya. Bersahaja hingga akhir hayatnya.
Senin, 8 Juni 2026, jasad sang patriot bersahaja itu diantar oleh ribuan pasang mata menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Langkah kaki para pelayat yang mengiringi jenazahnya adalah bukti sahih: kekuasaan bisa berakhir, jabatan bisa purnatugas, namun cinta rakyat yang tulus akan abadi melekat pada nama H. Mohamad Kilat Wartabone.
Selamat jalan, Sang Nakhoda Tenang. Selamat beristirahat di samping keagungan sejarah leluhurmu.












