nusatimes.id – Gorontalo Karawo Karnaval (GKK) 2026 dituntut tidak sekadar menjadi ajang parade busana. Setiap peserta diharapkan mampu menghadirkan kreativitas sekaligus memperkuat identitas budaya Gorontalo dalam setiap penampilan.
Hal tersebut disampaikan salah satu juri GKK, Budi Muda, saat memberikan arahan kepada para peserta. Menurutnya, aspek pengiring, atribut tambahan hingga konsep koreografi akan menjadi perhatian dalam penilaian. Budi mengingatkan peserta yang membawa atribut berukuran besar, seperti kereta kencana maupun properti dengan ukuran tinggi dan lebar, agar terlebih dahulu melakukan registrasi kepada panitia.
Langkah tersebut dinilai penting agar panitia dapat mengatur jalur yang akan dilalui peserta, baik melewati panggung maupun sisi gedung DPRD, sehingga penampilan tetap berjalan lancar.
“Untuk pengiringnya itu akan menjadi perhatian tersendiri dalam penilaian. Atribut tambahan juga harus diregistrasikan terlebih dahulu kepada panitia,” kata Budi.
Harus Selaras dengan Tema
Budi juga menekankan pentingnya kesesuaian karya dengan tema “Ritme Hulondalo, Harmoni Warisan Gorontalo”. Menurut dia, tema tersebut harus diterjemahkan secara utuh melalui harmoni motif karawo, fungsi busana, hingga unsur kebaruan dalam rancangan. Ia juga mendorong agar para desainer menampilkan karya karawo yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya.
“Kalau boleh, yang tampil adalah busana ataupun karawo yang belum pernah dipublish. Ini menjadi hal yang cukup fair bagi semua peserta,” ujarnya.
Budi yang juga merupakan Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) periode 2025-2030 menilai ruang kreativitas bagi desainer harus terus dibuka. Menurutnya, kompetisi harus memberikan kesempatan yang adil kepada seluruh peserta agar inovasi dan kreativitas tidak terkesan hanya menjadi milik pemenang pada tahun-tahun sebelumnya.
Jangan Hanya Lenggak-Lenggok
Memasuki pelaksanaan ke-12, Budi berharap GKK terus mengalami peningkatan. Ia menilai penampilan peserta idealnya tidak hanya sebatas berjalan di atas catwalk, tersenyum, atau melakukan koreografi sederhana. Setiap karya, kata dia, harus memiliki cerita yang mampu menggambarkan tema dan identitas Gorontalo.
“Jadi tidak hanya sekadar jalan, senyum-senyum, lenggak-lenggok biasa, tetapi ada seperti cerita dalam setiap penampilan,” tegasnya.
Budi juga mengingatkan peserta agar tidak menampilkan ikon daerah lain yang justru dapat mengaburkan identitas Gorontalo. Ia mencontohkan penggunaan properti atau bentuk rumah adat dari daerah lain yang pernah muncul dalam penampilan sebelumnya.
“Buat saya pribadi, itu bukan Gorontalo. Harusnya betul-betul menonjolkan Gorontalo, misalnya Polo Palo yang dibuat jumbo,” katanya.
Menurut Budi, kreativitas tetap penting, tetapi harus memiliki akar yang kuat pada budaya lokal. Dengan begitu, setiap penampilan dapat menjadi representasi kebanggaan terhadap warisan budaya Gorontalo. Ia pun mengajak seluruh desainer dan peserta GKK 2026 untuk tampil maksimal dan menghadirkan karya terbaik.
“Selamat berkompetisi dan selamat berinovasi. Tampilkan karawo dengan kebanggaan. Kami akan menunggu karya terbaik dari seluruh desainer dan instansi yang tampil dalam Gorontalo Karawo Karnaval 2026,” pungkas Budi. (*)






