Tahun 2025 layak dicatat sebagai salah satu tahun paling menghebohkan dalam perjalanan olahraga Gorontalo. Sepanjang 12 bulan, dunia olahraga daerah ini disuguhi drama, polemik, hingga torehan prestasi yang membuat Gorontalo tetap berdiri tegak di panggung nasional bahkan internasional.
Salah satu sorotan terbesar datang dari persiapan menuju Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) yang dikarenakan efisiensi anggaran sehingga jumlah cabang olahraga yang diberangkatkan terpaksa dikurangi. Alhasil cabang olahraga yang sukses meraih tiket lolos ke Popnas melalui perjuangan di Pra Popnas berang. Mediasi dan upaya keras terus dilakukan Dispora provinsi Gorontalo serta masyarakat peduli olahraga daerah ini hingga akhirnya semua cabang olahraga lolos Popnas dapat diberangkatkan meski ada yang melalui jalur mandiri maupun yang ditanggung oleh pemerintah daerah.
Berlanjut, kabar mengejutkan datang dari arena musyawarah KONI Kabupaten Gorontalo. Musyawarah yang tadinya berlansung sukses ternyata berbuntut gugatan dari salah satu calon ketua yang menemukan beberapa kejanggalan mulai dari tahapan hingga pelaksanaan musyawarah. Buntutnya, gugatan tersebut membuat KONI Provinsi Gorontalo harus berkonsultasi dengan KONI Pusat mencari solusi terbaik. Dan dari hasil konsultasi disertai bukti gugatan dan hasil mediasi yang dilakukan KONI Provinsi, secara tegas KONI Pusat menyarankan untuk dilakukan musyawarah ulang untuk pemilihan ketua KONI Kabupaten Gorontalo.
Kejadian yang tak kalah menghebohkan lagi yakni datang dari pelaksanaan Gorontalo Half Marathon (GHM) 2025. Event lari tahunan yang sejatinya menjadi ikon sport tourism daerah itu sempat diterpa badai kontroversi. Mulai dari persoalan teknis hingga berujung pada penonaktifan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga. Meski penuh riak, lomba akhirnya tetap sukses digelar dan menyedot perhatian ribuan peserta. Akhir yang manis, meski jalannya berliku.
Tak kalah mengejutkan, 2025 juga menjadi tahun berakhirnya Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) sebagai organisasi mandiri. Dinas yang berdiri tak lebih dari tiga tahun usai berpisah dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan itu resmi dilebur di penghujung tahun. Dispora kini bergabung dengan Dinas Pariwisata dan bertransformasi menjadi Disparpora, menandai babak baru pengelolaan kepemudaan dan olahraga di Gorontalo.
Drama belum berhenti. Oktober 2025, publik kembali diguncang oleh mencuatnya dugaan kasus korupsi dana KONI Gorontalo. Penggeledahan kantor sekretariat KONI menjadi puncak perhatian. Hingga akhir tahun, kasus tersebut masih bergulir dan berada dalam proses penyelidikan Kejaksaan Tinggi Gorontalo, meninggalkan tanda tanya besar soal tata kelola olahraga daerah.
Namun di balik hiruk-pikuk itu, prestasi justru berbicara lantang. Atlet-atlet Gorontalo tampil menggigit sepanjang 2025. Dari ajang POPNAS, POMNAS, PON Bela Diri, hingga level SEA Games dan ASEAN Schools Games (ASG), putra-putri terbaik daerah ini sukses mengharumkan nama Gorontalo. Bahkan, dua pelatih asal Gorontalo mendapat kepercayaan emas sebagai pelatih tim nasional di level internasional, sebuah pencapaian yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Prestasi itu menjadi bukti bahwa di tengah gonjang-ganjing organisasi dan kebijakan, semangat juang atlet Gorontalo tak pernah padam. Mereka terus berlari, bertarung, dan bertanding membawa Merah Putih dan panji daerah ke podium kehormatan.
Memasuki 2026, harapan besar pun mengiringi langkah olahraga Gorontalo. Bukan hanya soal medali, tetapi juga perbaikan tata kelola dan manajemen organisasi olahraga agar lebih profesional dan berintegritas. Kolaborasi antara induk cabang olahraga, akademisi, praktisi, pelaku olahraga, organisasi prestasi, masyarakat hingga disabilitas bersama pemerintah provinsi dan kabupaten/kota menjadi kunci menciptakan ekosistem olahraga yang sehat.
Lebih dari itu, penguatan olahraga pendidikan, prestasi, dan rekreasi diharapkan mampu mengakselerasi potensi sport tourism dan sport industry Gorontalo. Tujuannya jelas: prestasi terus naik, ekonomi daerah ikut bergerak, dan olahraga benar-benar menjadi denyut kehidupan masyarakat.
Paling terakhir, olahraga Gorontalo ditutup dengan penyerahan bonus bagi atlet pelatih peraih medali di Sea Games 2025 Thailand serta pelaksanaan Musyawarah Olahraga Kota Luar Biasa) yang secara aklamasi dipercaya sebagai Ketua Abdul Hafidz Daud yang juga Direktur RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe.
Tahun 2025 boleh penuh gejolak. Tapi bagi olahraga Gorontalo, satu hal tetap pasti: prestasi tak pernah berhenti melaju. (*)






