Scroll untuk baca artikel
NasionalNusantaraOlahraga

Safety dan Medical Director GHM 2026 Jadi Catatan

×

Safety dan Medical Director GHM 2026 Jadi Catatan

Sebarkan artikel ini

nusatimes.id — Gorontalo Half Marathon (GHM) 2026 tak boleh sekadar menjadi ajang lari yang ramai peserta dan meriah di garis start. Di balik ambisi menjadikannya event olahraga bergengsi di kawasan Indonesia Timur, ada satu hal yang wajib dikunci: keselamatan pelari.

Pesan itu disampaikan Fadli Hasan, anggota DPRD Provinsi Gorontalo yang juga seorang runner, dalam evaluasi persiapan GHM 2026. Menurut Fadli, GHM memiliki modal besar untuk naik kelas. Namun, kualitas penyelenggaraan harus dibangun dari sisi teknis, terutama dengan memperjelas peran Race Director dan Medical Director.

“Kalau ada Race Director dan sertifikasi, siapa yang diperankan? Itu penting,” ujar Fadli.

Race Director, kata dia, bukan sekadar pengatur jalannya perlombaan. Sosok ini harus memiliki kewenangan penuh mengambil keputusan ketika kondisi di lintasan sudah tidak memungkinkan bagi peserta untuk melanjutkan lomba.

Maklum, nomor half marathon menyajikan tantangan berbeda. Jarak hingga 21 kilometer membuat faktor cuaca, kondisi lintasan, kelelahan hingga kesehatan pelari wajib mendapat perhatian serius.

“Nyawa ini taruhannya,” tegasnya.

Safety Harga Mati

Fadli juga menyoroti pentingnya Medical Director. Pengalaman di sejumlah event marathon nasional menunjukkan kondisi pelari bisa berubah drastis, terutama saat memasuki kilometer-kilometer akhir.

Pelari yang sebelumnya terlihat baik-baik saja bisa tiba-tiba mengalami masalah kesehatan. Karena itu, tim medis harus memiliki kewenangan dan kemampuan menentukan kapan seorang pelari harus dihentikan atau dievakuasi.

“Kalau memang sudah tidak mungkin finish, harus diangkat,” katanya.

Menurut Fadli, ukuran sukses sebuah event lari bukan hanya jumlah peserta, kemeriahan panggung atau banyaknya penonton. Safe and secure harus menjadi standar utama.

“Kalau dia secure, secara otomatis ini berhasil. Bapak punya event,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan agar pengalaman kurang baik pada event sebelumnya tidak terulang. Persoalan seperti lubang di lintasan, misalnya, bisa berujung fatal bagi peserta. Apalagi, pelari telah membayar untuk mengikuti event. Artinya, mereka berhak mendapatkan lintasan yang aman sejak start hingga finis.

Track Harus Presisi

Bukan hanya keamanan lintasan yang menjadi sorotan. Pengukuran jarak juga harus presisi. Fadli menilai angka jarak lomba harus benar-benar sesuai dengan standar yang ditetapkan. Jika sebuah nomor mencantumkan jarak 21,397 kilometer, maka pengukurannya harus akurat. Hal itu berkaitan langsung dengan catatan waktu dan personal best pelari.

“Karena kita namanya personal best. Yang kita kejar tiap kali lari itu,” katanya.

Hal serupa berlaku untuk kategori 5K dan 10K. Selisih jarak yang terlalu jauh bisa memengaruhi catatan waktu peserta. Cut-off time (COT) juga harus dibuat jelas. Pelari yang sudah melewati batas waktu tertentu dan dinilai tidak memungkinkan menyelesaikan lomba harus dihentikan.

“Kalau memang dia COT di titik tertentu, itu distop karena sudah tidak mungkin finish,” ujarnya.

Water Station Jangan Asal

Perhatian berikutnya menyasar fasilitas pendukung, khususnya water station. Menurut Fadli, ketersediaan air minum harus dihitung berdasarkan jarak tempuh peserta. Idealnya, water station tersedia secara berkala dengan jarak sekitar 2,5 kilometer.

Kebutuhan pelari tidak berhenti pada air minum. Faktor cuaca, titik rawan kelelahan hingga kebutuhan recovery peserta juga harus dipetakan. Kerja sama dengan brand menjadi salah satu opsi untuk memperkuat dukungan logistik. Bantuan pun tak selalu harus berupa dana. Produk dari perusahaan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan peserta selama event berlangsung.

“Brand-brand seperti Wings Group itu mau spending. Mereka mau support termasuk produk,” ujarnya.

Komunitas Wajib Dilibatkan

GHM juga dinilai tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan komunitas lari. Komunitas, kata Fadli, memiliki pengalaman langsung sebagai pelari sekaligus memahami kebutuhan peserta. Karena itu, mereka seharusnya dilibatkan sejak tahap persiapan. Namun, keterlibatan itu harus dilakukan secara proporsional dan adil agar tidak menimbulkan kecemburuan antarkomunitas.

“Komunitas itu penting, tapi dilibatkan,” katanya.

Bagi komunitas, keterlibatan dalam GHM bukan sekadar persoalan finansial. Ada kebanggaan, pengalaman dan portofolio yang menjadi nilai tersendiri. Karena itu, komunikasi antara panitia dan komunitas harus dibangun sejak awal.

Saatnya Naik Kelas

Jika aspek teknis dan keselamatan mampu diperkuat, GHM punya peluang besar melompat ke level yang lebih tinggi. Bukan sekadar lomba lari, tetapi menjadi produk sport tourism Gorontalo. Peserta dari luar daerah datang bukan hanya untuk berlari. Mereka juga bisa menikmati destinasi wisata, mencicipi kuliner hingga membeli produk lokal.

Efeknya tentu lebih luas. Perputaran ekonomi tidak hanya terjadi di area perlombaan, tetapi juga hotel, restoran, transportasi, UMKM dan sektor pariwisata.

“Jangan memperkenalkan orang mendatangi suatu kota bukan hanya datang untuk wisata, tapi ada olahraganya,” ujarnya.

Fadli pun berharap GHM tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Event ini harus dikemas sebagai destinasi sport tourism yang mampu menarik pelari dari berbagai daerah di Indonesia. Persaingan event lari nasional semakin ketat. Kota-kota lain terus berlomba menghadirkan lomba dengan konsep, lintasan dan pelayanan yang semakin profesional. Karena itu, GHM 2026 harus berani menaikkan standar.

“Pertama, dari segi kualitas lari, track yang kita lakukan. Kedua safety. Kami berani semua berhubungan dengan safety, secure dan aman,” pungkasnya. (*)

Apa Komentar Anda?