nusatimes.id – Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) bukan sekadar ajang pamer busana dan kreativitas. Festival tahunan yang digelar Pemerintah Provinsi Gorontalo itu dinilai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat, khususnya pelaku seni, desainer, dan pengrajin kain karawo.
Hal itu disampaikan pemerhati seni sekaligus desainer Gorontalo, Eno Makulase. Menurut Eno, GKK menjadi salah satu ruang penting untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan kain karawo melalui busana karnaval. Setiap tahun, kata dia, peserta dari berbagai kalangan mulai dari pelajar SMP, SMA, mahasiswa hingga perkantoran ikut ambil bagian dengan mengenakan busana berbahan karawo.
“Ini salah satu ajang yang mengangkat sulaman karawo yang dipadupadankan dalam busana karnaval,” ujar Eno.
Ia menilai kebanggaan masyarakat menggunakan karawo dalam festival tersebut turut memberikan efek berantai bagi pelaku ekonomi kreatif. Eno mengaku sebagai desainer, dirinya merasakan langsung dampak ekonomi dari pelaksanaan GKK. Tahun ini, dia menangani busana untuk sekitar sembilan kontingen.
“Alhamdulillah, tahun ini saya selaku desainer memegang sekitar sembilan kontingen. Dampaknya ke perekonomian, terutama kepada pengrajin,” katanya.
Menurutnya, kebutuhan kain karawo untuk pembuatan busana karnaval secara otomatis membuka pasar bagi para pengrajin lokal. Ia pun memesan kain karawo dari sejumlah pengrajin yang ada di Provinsi Gorontalo.
“Dampaknya kena dari masyarakat bawah hingga kami sebagai desainer dari Provinsi Gorontalo,” jelasnya.
Eno berharap pemerintah daerah terus memperkuat pelaksanaan GKK pada tahun-tahun mendatang. Salah satunya dengan memperluas keterlibatan peserta, termasuk kalangan sekolah, BUMN, perbankan hingga perusahaan swasta. Dia menilai keterlibatan berbagai sektor akan membuat dampak ekonomi GKK semakin besar.
“Kalau bisa tahun depan bukan hanya BUMN dan sekolah. Semua boleh ikut festival karawo, baik umum maupun sekolah,” harapnya.
Eno juga menyoroti minimnya keterlibatan perbankan dalam kontingen karnaval tahun ini. Menurut dia, bank pernah menjadi bagian penting dalam pelaksanaan festival karawo pada tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau bisa bank harus diikutsertakan. Saya lihat tahun ini tidak ada bank dalam kontingen karnaval,” ujarnya.
Dia berharap perbankan kembali dilibatkan seperti pada pelaksanaan festival karawo pada 2011, 2012, dan 2013. Eno mengaku telah terlibat dalam kegiatan Festival Karawo selama sekitar 16 tahun. Ia menyebut pelaksanaan festival tersebut sejak 2011 turut menjadi bagian dari perjalanan panjang pengembangan karawo di Gorontalo.
“Alhamdulillah saya sudah tahun ke-16. Dari 2011, almarhum dosen kita Pak Yanto bersama Bank Indonesia melaksanakan Festival Karawo,” ungkapnya.
Menurut Eno, perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa sebuah festival budaya dapat memberikan dampak yang luas jika dilaksanakan secara konsisten. Bukan hanya menjadi panggung promosi budaya, GKK juga mampu menggerakkan rantai ekonomi dari pengrajin kain, desainer, pelaku usaha hingga peserta yang terlibat dalam karnaval.
“Dampaknya itu sampai 2026, sampai sekarang ini,” pungkasnya. (*)






