nuatimes.id – Kota Gorontalo kembali menunjukkan kelasnya! Festival Cap Go Meh 2577/2026 berlangsung meriah, penuh warna, dan sarat makna kebersamaan. Perayaan yang digelar di Kota Gorontalo ini bukan sekadar pesta budaya, tapi panggung besar harmoni lintas agama dan suku di Bumi Serambi Madinah.
Cap Go Meh yang jatuh tepat di malam Purnama ke-15 penanggalan Imlek menjadi penutup rangkaian Tahun Baru Imlek 2577/2026. Tua-muda, lintas suku, lintas agama, semua tumpah ruah dalam suasana hangat penuh kekeluargaan. Yang bikin momen ini makin spesial, perayaan beririsan langsung dengan Bulan Suci Ramadhan. Dua momentum besar, satu panggung kebersamaan!
Kepala Dinas Pariwisata, Ekraf, Pemuda dan Olahraga (Parekrafpora) Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, angkat bicara. Ia memberi apresiasi tinggi atas soliditas antarumat beragama yang tetap terjaga.
“Pada bulan suci Ramadhan ini, beberapa kegiatan keagamaan memang beririsan. Namun alhamdulillah, solidaritas umat beragama di Gorontalo berjalan dengan sangat baik. Keyakinan pribadi bisa berbeda, tetapi persoalan sosial kita bergandengan tangan,” tegasnya.
Tak hanya pesta lampion dan atraksi budaya, malam itu menjadi simbol kuat bahwa keberagaman bukan sekadar slogan. Perpaduan budaya Tionghoa dan budaya lokal Nusantara tampil apik, membaur tanpa sekat. Pesannya jelas: perbedaan adalah cahaya yang memperindah kehidupan bersama.
Sultan juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus membuka ruang dialog dan kolaborasi antara sektor pariwisata dan kebudayaan. Targetnya satu: menjadikan Gorontalo aman, nyaman, dan makin dilirik wisatawan lokal hingga mancanegara.
Festival Cap Go Meh 2577 di Gorontalo bukan cuma soal tradisi. Ini soal identitas. Soal bagaimana keberagaman dirawat, dirayakan, dan dijadikan kekuatan. Di tengah Ramadhan, Gorontalo membuktikan: harmoni itu nyata, dan tetap jadi juara!. (*)






