Scroll untuk baca artikel
Dispora ProvinsiGorontaloOlahragaOpini

Dispora Dibubarkan, Olahraga Gorontalo Masuk Babak Baru. Prestasi Terancam, Sport Tourism Jadi Arah?

×

Dispora Dibubarkan, Olahraga Gorontalo Masuk Babak Baru. Prestasi Terancam, Sport Tourism Jadi Arah?

Sebarkan artikel ini

 

Tahun 2025 menjadi penanda berakhirnya perjalanan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Gorontalo. Di penghujung tahun, pemerintah provinsi resmi melebur Dispora dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, melahirkan OPD baru bernama Dinas Pariwisata, Ekraf, Pemuda dan Olahraga (Disparpora).

Keputusan ini langsung memantik perdebatan. Kewenangan olahraga dipersempit, alokasi anggaran tak lagi menjadi prioritas, dan arah kebijakan diprediksi bergeser. Jika sebelumnya Dispora sempat condong ke olahraga pendidikan saat bergabung dengan Dinas Pendidikan, kini sinyal kuat mengarah ke sport tourism, bukan lagi olahraga prestasi murni.

Semua memang bergantung pada pucuk pimpinan. Namun pertanyaan besarnya: lebih efisienkah Dispora dilebur, atau justru melemahkan pembinaan olahraga dan kepemudaan? Atau jangan-jangan, ada desain besar yang tak sepenuhnya tersampaikan ke publik?

Sejumlah fakta pemicu dinilai tak lazim. Rumor bermula dari pergantian puncuk pimpinan Kadispora di usia dinas yang bahkan belum genap dua tahun. Situasi memanas ketika beberapa keputusan dan langkah teknis dalam penyelenggaraan event olahraga dinilai berlebihan, bahkan ceroboh.

Dampaknya serius. Elit partai politik dan legislatif ikut bersuara, melayangkan protes hingga mengeluarkan rekomendasi penonaktifan Kadispora. Situasi kala itu membuat Dispora berada dalam tekanan berat.

Namun drama itu perlahan mereda. Rekomendasi akhirnya dikabulkan, event dievaluasi dan diperbaharui, hingga berujung sukses. Anehnya, isu besar yang sempat mengguncang itu kini nyaris lenyap tanpa jejak. Publik pun mulai bertanya-tanya: apa sebenarnya yang terjadi di balik layar?

Apakah efisiensi anggaran memang murni alasan peleburan Dispora? Atau justru menjadi “senjata” untuk menjalankan skema lain yang tak wajib diketahui publik?
Kini semua telah menjadi keputusan.

Dispora tinggal nama, Disparpora resmi berjalan. Konsekuensinya jelas: olahraga Gorontalo memasuki babak baru yang penuh tanda tanya. Apakah akan lebih tertata dan maju dengan konsep pariwisata olahraga, atau justru semakin terpuruk karena prestasi tak lagi menjadi fokus utama?

Jawabannya akan terlihat di lapangan. Satu hal pasti, pertandingan sudah dimulai—dan olahraga Gorontalo tak boleh kalah sebelum peluit dibunyikan. (*)

Apa Komentar Anda?