nusatimes.id – Kejuaraan Shorinji Kampo Antar Dojo Samurai Open 3 sukses menjadi ajang adu kemampuan sekaligus wadah pembinaan atlet kempo tradisional di Gorontalo. Selama tiga hari pelaksanaan, mulai Jumat hingga Minggu, para arlet dari berbagai daerah di Sulawesi bersaing dalam 11 nomor pertandingan yang mempertontonkan teknik, disiplin, dan semangat juang tinggi.
Sekretaris PERKEMI Gorontalo, Sutrisno Talango, berharap kejuaraan ini mendapat perhatian dan dukungan yang lebih besar dari pemerintah agar pembinaan atlet dapat terus berkesinambungan.
“Harapan saya tentu pemerintah bisa memberikan support yang lebih besar. Alhamdulillah kejuaraan ini terus berjalan hingga edisi ketiga. Semoga para siswa yang ikut bertanding semakin termotivasi dan dapat memanfaatkan sertifikat kejuaraan ini sebagai jalur prestasi untuk masa depan mereka,” ujar Sutrisno kepada awak media, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, Kejuaraan Shorinji Kampo Antar Dojo Samurai Open 3 bukan sekadar ajang perebutan medali, tetapi juga menjadi batu loncatan bagi atlet muda untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membuka peluang melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi. Persaingan dalam kejuaraan kali ini berlangsung di 11 nomor pertandingan yang terbagi dalam berbagai kelompok usia. Nomor yang dipertandingkan meliputi Embu Tandoku Junior, Embu Tandoku Remaja, serta Randori Junior, Randori Remaja, hingga Randori Umum.
Atmosfer pertandingan semakin semarak dengan kehadiran peserta dari berbagai daerah di Pulau Sulawesi. Meski undangan telah disebarkan kepada 22 dojo, peserta yang hadir berasal dari sejumlah kontingen, di antaranya SMA 7 Kendari dari Sulawesi Tenggara, Kota Manado, Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), BGB Bahu dari Sulawesi Utara, serta dojo-dojo tuan rumah seperti Dojo Telaga, Dojo Mijumi, Dojo Seisin, dan Dojo Samurai Kota Gorontalo.
Keikutsertaan dojo-dojo lintas provinsi tersebut menjadi bukti bahwa Kejuaraan Suriji Kampo III mulai mendapat perhatian di kawasan Sulawesi. PERKEMI Gorontalo berharap kejuaraan ini dapat terus berkembang menjadi agenda rutin yang melahirkan lebih banyak atlet berprestasi sekaligus mempererat persaudaraan antardojo di wilayah timur Indonesia. (*)






