nusatimes.id – Prestasi olahraga boleh dikejar setinggi langit, tetapi pendidikan tidak boleh ditinggalkan. Prinsip itu menjadi komitmen sekolah dalam membina para atlet Satuan Pembinaan Olahraga Daerah (SPOPDA) agar mampu berprestasi di arena pertandingan tanpa mengorbankan akademik.
Pihak sekolah mengungkapkan, berbagai kebijakan khusus telah diterapkan untuk menyesuaikan aktivitas belajar para atlet yang setiap hari menjalani latihan pagi dan sore. Salah satunya adalah memberikan kelonggaran jam masuk sekolah hingga pukul 08.00 atau 08.30, serta mempercepat jam pulang sekitar pukul 12.30 hingga 13.00 agar para atlet memiliki waktu istirahat dan makan sebelum kembali menjalani sesi latihan sore.
Kebijakan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama setelah adanya kerja sama antara pihak sekolah dan instansi olahraga.
“Kami sangat mendukung prestasi atlet. Karena mereka latihan pagi dan sore, kami memberikan dispensasi jam masuk dan jam pulang agar kondisi fisik mereka tetap terjaga,” ujar wakil kepala sekolah, SMA 6 Gorontalo, Haldun Bilondatu, Kamis (30/72026).
Tak hanya itu, sekolah juga berupaya mengejar ketertinggalan pelajaran para atlet. Guru-guru bahkan sempat menggelar pembelajaran tambahan pada malam hari di asrama serta memberikan pendampingan khusus bagi siswa yang tertinggal materi akibat harus mengikuti latihan maupun pertandingan.
Guru juga membuka ruang konsultasi agar atlet tetap bisa memperoleh materi yang tidak sempat diikuti di kelas. Dengan cara itu, sekolah berharap prestasi olahraga tetap berjalan seiring dengan perkembangan akademik.
Namun, evaluasi menemukan masih ada kendala pada salah satu cabang olahraga. Sejumlah atlet tercatat memiliki tingkat kehadiran yang sangat rendah hingga berdampak pada hasil belajar, bahkan ada yang tidak naik kelas.
Menurut pihak sekolah, persoalan tersebut bukan karena kurangnya toleransi dari sekolah, melainkan lemahnya disiplin kehadiran setelah latihan selesai.
“Kami sudah mengundang pelatih untuk duduk bersama. Mengapa atlet dari cabang lain tetap bisa hadir di sekolah dan prestasi akademiknya baik, sementara pada cabang tertentu justru banyak yang tidak masuk,” jelasnya.
Sekolah menilai pengawasan dari pelatih memiliki peran penting agar atlet segera kembali ke sekolah usai latihan pagi. Sebab, disiplin mengikuti pembelajaran menjadi kunci agar prestasi olahraga tidak dibayar mahal dengan penurunan nilai akademik.
Menariknya, pihak sekolah mencontohkan ada atlet nasional seperti Saskia yang tetap mampu mengikuti proses belajar meski sering mengikuti pemusatan latihan nasional. Hal itu dinilai sebagai bukti bahwa prestasi olahraga dan pendidikan masih bisa berjalan beriringan apabila didukung kedisiplinan serta komunikasi yang baik antara atlet, pelatih, dan sekolah.
“Kami sadar mengejar prestasi olahraga dan akademik secara bersamaan tidak mudah. Tetapi minimal prestasi akademik mereka jangan sampai turun. Itu yang terus kami perjuangkan,” tegas pihak sekolah.
Kolaborasi antara sekolah, pelatih, dan pengelola SPOPDA kini menjadi kunci agar pembinaan atlet tidak hanya melahirkan juara di arena pertandingan, tetapi juga menghasilkan generasi yang siap bersaing di dunia pendidikan maupun masa depan. (*)






