DUNIA olahraga Gorontalo diprediksi memasuki fase sulit pada 2026. Sinyal pelemahan mulai terasa, dari minimnya dukungan anggaran hingga ketidakjelasan agenda besar daerah dan nasional.
Di legislatif, pejuang olahraga kini kian terbatas. Tercatat hanya tersisa beberapa figur yang masih aktif mengawal isu olahraga. Jumlah yang dinilai belum sebanding dengan kompleksitas persoalan olahraga daerah.
Kabar yang beredar di internal menyebutkan alokasi anggaran olahraga 2026 bakal jauh dari kata ideal. Jika kemudian kekhawatiran tersebut jadi kenyataan maka ini jelas menyulitkan pembinaan prestasi, apalagi untuk target multi-event.
Salah satu penyebab utama melemahnya dukungan disebut mungkin berasal dari dileburnya Dinas Pemuda dan Olahraga ke Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Ditambah lagi, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat yang masih berlanjut hingga 2026 turut menekan ruang fiskal daerah.
Faktor lain yang tak kalah krusial adalah berbagai dugaan penyelewengan dana hibah olahraga yang masih berproses hukum. Situasi ini diduga membuat pemerintah lebih berhati-hati, bahkan cenderung menahan dukungan anggaran untuk sektor olahraga.
Di sisi lain, mega proyek dan mega program pemerintah pusat dan daerah yang berlanjut di 2026 ikut menyedot perhatian dan anggaran. Belum lagi visi-misi pemerintah daerah yang padat program, namun belum sepenuhnya sinkron antara provinsi dan kabupaten/kota, khususnya dalam urusan olahraga.
Meski Pergub tentang Desain Besar Olahraga Daerah (DBOD) telah diterbitkan, realitas di lapangan menunjukkan koordinasi dan sinkronisasi belum berjalan maksimal. Program masih berjalan sendiri-sendiri, tanpa arah bersama yang kuat.
Akibatnya, sejumlah agenda besar olahraga terancam sulit terwujud. Porprov Gorontalo hingga kini belum memiliki kepastian waktu dan lokasi, pasca mundurnya Kabupaten Pohuwato sebagai tuan rumah. Kondisi ini diperparah dengan padatnya agenda nasional, mulai dari PON Beladiri jilid II, PON Indoor, PON Pantai, hingga agenda internal masing-masing cabang olahraga.
Jika kondisi ini tak segera dibenahi, 2026 bisa menjadi tahun terberat bagi olahraga Gorontalo. Tanpa keberpihakan anggaran, sinkronisasi program, dan komitmen kuat lintas sektor, prestasi berpotensi stagnan—bahkan mundur. Olahraga Gorontalo kini berada di persimpangan: bangkit dengan kerja bersama, atau tertinggal oleh keadaan. (*)






