Scroll untuk baca artikel
Dispora ProvinsiGorontalo

Green Tumbilotohe Festival Perkuat Posisi Gorontalo sebagai Destinasi Religious Tourism

×

Green Tumbilotohe Festival Perkuat Posisi Gorontalo sebagai Destinasi Religious Tourism

Sebarkan artikel ini

 

nusatimes.id – Gorontalo tak main-main menyambut Tumbilotohe 2026. Tradisi ikonik masyarakat Gorontalo ini resmi naik kelas melalui Festival Green Tumbilotohe yang akan digelar selama tiga hari, 14–16 Maret 2026, bertepatan dengan malam ke-27, 28, dan 29 Ramadan, atau tiga malam terakhir menjelang Idulfitri.

Transformasi Tumbilotohe menjadi Green Tumbilotohe memasuki tahun ketiga pelaksanaannya. Festival ini mengusung konsep ramah lingkungan sekaligus memperkuat identitas Gorontalo sebagai destinasi wisata religi (religious tourism) yang berkelanjutan.

Kepala Bidang Pariwisata Parekrafpora Provinsi Gorontalo, Romi Moge, menjelaskan bahwa Green Tumbilotohe tidak sekadar festival budaya, tetapi juga menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mendukung agenda lingkungan nasional dan internasional.

“Festival Green Tumbilotohe diarahkan pada penggunaan lampu tradisional berbahan bakar minyak kelapa, bukan bola lampu listrik atau minyak tanah. Lampu padamala menjadi simbol utama, sekaligus solusi ramah lingkungan,” ujar Romi.

Tumbilotohe selama ini dikenal sebagai tradisi menyalakan lampu menjelang Idulfitri yang sarat makna spiritual, kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat Gorontalo. Cahaya lampu dimaknai sebagai penerang hati dan jalan menuju kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi ini juga dihadapkan pada tantangan baru, terutama konsumsi energi dan dampak lingkungan.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Green Tumbilotohe Festival hadir sebagai upaya memaknai ulang tradisi tanpa menghilangkan nilai luhurnya. Transformasi ini bertujuan menjaga relevansi Tumbilotohe dengan isu global tentang keberlanjutan dan tanggung jawab ekologis.

Festival ini mendorong penggunaan energi ramah lingkungan, penataan lampu yang lebih efisien, serta pengurangan limbah dekorasi berbahan plastik dan material sekali pakai. Masyarakat juga diarahkan untuk berpartisipasi melalui kreativitas berbasis daur ulang, pemanfaatan bahan lokal, serta pengelolaan kawasan festival yang bersih dan berkelanjutan.

Tak hanya itu, Tumbilotohe 2026 juga akan dikemas lebih kompetitif melalui format lomba antar kabupaten/kota se-Provinsi Gorontalo, menjadikannya magnet baru bagi wisatawan dan penggerak ekonomi daerah.

Kepala Dinas Parekrafpora Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, menegaskan bahwa konsep hijau menjadi strategi utama festival ini.

“Penggunaan minyak tanah dan lampu listrik ditekan, diganti bahan bakar bebas emisi serta material yang dapat didaur ulang. Tradisi tetap hidup, lingkungan terjaga, dan event semakin modern,” ujarnya, Selasa (27/01/2026).

Wisata religi tetap menjadi roh utama festival ini. Aktivitas berbasis komunitas, pergerakan massal masyarakat, serta kunjungan wisatawan yang memadati ruang publik memberikan dampak langsung terhadap sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Hotel, UMKM, transportasi, hingga pelaku ekonomi kreatif turut merasakan manfaat dari gelaran ini.

Festival Green Tumbilotohe juga diproyeksikan sebagai pemanasan kalender pariwisata Gorontalo, dengan kolaborasi budaya, lingkungan, dan aktivitas masyarakat yang selaras dengan tren wisata berbasis pengalaman dan keberlanjutan.

Singkatnya, Tumbilotohe 2026 bukan sekadar pesta cahaya. Ini adalah momentum besar pariwisata Gorontalo—tradisi tetap menyala, wisata religi menguat, dan ekonomi daerah bergerak menuju kemenangan. (*)

 

Apa Komentar Anda?