nusatimes.id – Perayaan Cap Go Meh kembali menjadi magnet budaya di Gorontalo. Tradisi yang digelar oleh komunitas Tionghoa ini akan berlangsung pada 3 Maret 2026, sekaligus menandai hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek.
“Cap Go Meh tidak sekadar perayaan, tetapi menjadi simbol harmoni budaya dan kebersamaan lintas etnis di Bumi Serambi Madinah,” kata Sultan Kalupe Kadis Parekrafpora Provinsi Gorontalo, Kamis (29/01/2026).
Cap Go Meh Gorontalo menghadirkan perpaduan unik antara budaya Tionghoa dan kearifan lokal Gorontalo. Suasana meriah, penuh warna, dan sarat makna terasa kuat melalui berbagai atraksi yang ditampilkan. Mulai dari barongsai, liong (tarian naga), parade budaya, hingga pertunjukan musik tradisional Tionghoa yang memukau masyarakat dan wisatawan.
Selain hiburan budaya, perayaan ini juga diisi dengan ritual doa dan sembahyang sebagai ungkapan rasa syukur serta harapan akan keberuntungan, keselamatan, dan kesejahteraan di tahun yang baru. Nilai spiritual tersebut menjadi bagian penting yang memperkaya makna Cap Go Meh di Gorontalo.
“Tak hanya menjadi agenda budaya komunitas, Cap Go Meh Gorontalo kini menjelma sebagai event budaya khas daerah yang menarik perhatian masyarakat luas, wisatawan lokal, hingga mancanegara,” ujar Sultan kepada awak media ini.
“Antusiasme pengunjung mencerminkan kuatnya semangat toleransi, kerukunan antarumat beragama, serta keharmonisan antar-etnis yang terjaga di Gorontalo,” lanjutnya.
Dengan kehangatan interaksi sosial dan semangat kebersamaan yang terbangun, Cap Go Meh Gorontalo bukan sekadar perayaan tradisional. Lebih dari itu, event ini menjadi ruang pelestarian budaya yang hidup, inklusif, dan memperkaya keberagaman seni serta budaya di Provinsi Gorontalo. (*)






