nusatimes.id — Ini bukan tentang bubarnya sebuah dinas. Ini tentang sebuah tim. Tentang keyakinan yang bertahan di tengah tekanan. Tentang Dispora—yang mungkin telah selesai secara struktur, tapi belum selesai dalam cerita.
Awal tahun 2026 menjadi saksi silaturrahim terakhir keluarga besar Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Gorontalo. Sebuah pertemuan sederhana, hangat, dan penuh makna, usai akhir 2025 Dispora resmi dilebur dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Di hari itu, tak ada seragam kebesaran. Tak ada jabatan yang dipamerkan. Yang tersisa hanyalah kenangan—tentang kerja keras, tentang tekanan, dan tentang mimpi membangun olahraga serta kepemudaan Gorontalo dari nol.
Tema yang mengiringi momen itu terasa kuat: “The Last Dispora.” Namun ini bukan kisah akhir. Justru sebaliknya—ini adalah kisah awal dari warisan yang ditinggalkan.
Bagi Zain Mooduto, pejabat fungsional Dispora, dinas ini lebih dari sekadar OPD. Dispora adalah rumah. Tempat lahirnya banyak cerita—manis maupun pahit—dalam perjalanan yang terbilang singkat, kurang dari tiga tahun, namun berdampak besar bagi daerah.
“Tidak bisa dipungkiri, setelah berdiri sendiri secara tidak langsung banyak prestasi yang telah ditorehkan Dispora provinsi. Hanya saja memang tidak sedikit pula tekanan dan tantangannya,” ujarnya.
Dalam dua tahun terakhir, Dispora Provinsi Gorontalo mencatatkan berbagai prestasi olahraga, menghidupkan kembali agenda kepemudaan, serta menjadi motor penggerak banyak event yang sempat redup. Dari pembinaan atlet hingga ruang ekspresi anak muda, Dispora hadir sebagai penguat.
Layaknya sebuah tim sepak bola yang harus bubar sebelum mencapai puncak, Dispora pergi saat sedang membangun ritme. Namun semangatnya tak ikut dilebur. Ia tertinggal di lapangan—dalam ingatan, dalam prestasi, dan dalam keyakinan bahwa olahraga Gorontalo pernah memiliki rumah yang berjuang sepenuh hati.
The Last Dispora bukan tentang siapa yang pergi. Tapi tentang apa yang telah ditinggalkan. Dan tentang siapa saja yang akan melanjutkan permainan.
Peluit memang telah ditiup. Namun pertandingan untuk prestasi Gorontalo…
masih jauh dari selesai. (*)






